Artikel
Kamis, 02 Juli 2009 07:15:37
MEMBANGUN MANAJEMEN PKBM YANG MEMBERDAYAKAN
Kategori: Umum (2938 kali dibaca)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) harus melakukan sosialisasi kelembagaan kepada masyarakat melalui berbagai media yang dimiliki, seperti penyebaran brosur “Tujuan orientasi teknis ini diantaranya adalah meningkatkan mutu pengelola PKBM sehingga dalam melakukan menyelenggarakan program pendidikan nonformal bisa optimal sesuai harapan demi pemberdayaan masyarakat.” Kata Drs.Eddy Moedjiono dalam keterangannya kepada Sketsa dalam kegiatan Orientasi Teknis Pengelola PKBM Propinsi Jawa Timur tahun 2009, tanggal 24 sampai dengan 26 Juni 2009. dikatakan pula bahwa kegiatan ini sebagai media komunikasi antara pemerintah, dalam hal ini bidang Pendidikan Nonformal dan informal, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur serta sebagai sarana menambah wawasan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas program yang diselenggarakan oleh PKBM.
Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Asida, kota Batu, Malang ini, materi yang disampaikan meliputi Kebijakan Program PNFI dan Nilai Budaya, Kebijakan program dikmas dan kesetaraan, pemasaran produk dan HAKI, Etos kerja, Managemen PKBM, dan Kebijakan PAUD. Semuanya disampaikan dengan menggunakan metode dialogis partisipatori sehingga suasana kelas menjadi ”enjoyfull learning” tidak membosankan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam rangka menambah informasi tentang managemen PKBM dan pentingnya membangun jaring kemitraan.” Kata Bahtiar, pengelola PKBM ”Cempaka”, Kabupaten Pasuruan dengan penuh antusias. Ditambahkan pula bahwa kegiatan ini kedepan, disamping sebagai media temu pengelola PKBM, sekaligus sebagai wahana dialog antara anggota dan pengurus forum PKBM.
Suliadi dari PKBM ”Bumi Rahayu”, Kabupaten Trenggalek mengatakan bahwa mengajak masyarakat untuk aktif dalam kegiatan PNF masih sulit karena dana program yang terbatas. Untuk itulah, masih menurut Pak Di, panggilan akrabnya, pengurus PKBM harus aktif melakukan sosialisasi program PNF kepada masyarakat dan menjalin kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah untuk mendapatkan dukungan dana program sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam dialog yang di pimpin oleh Drs. Lukas Khambali, SH, M.Hum dari PKBM ”Bina Abdi Wiyata” Kota Surabaya ini muncul sebuah wacana bahwa kedepan, program PKBM harus dikemas sedemikian rupa agar menarik minat masyarakat yang belum ’terdidik’ mengikuti program yang diselenggarakan PKBM sesuai kebutuhannya. Perlu juga diadakan sebuah kegiatan kebersamaan sebagai ’ragi belajar’ antara Tutor, Pengelola dan warga belajar untuk menumbuhkan rasa ”Melu Handarbeni” PKBM demi kemajuan penyelenggaraan program yang memberdayakan.
Eddy Mudjiono, sebagai ketua pelaksana, dalam pengerahan penutupan mengharapkan agar PKBM dapat mengoptimalkan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui program pendidikan nonformal yang disesuaikan dengan permintaan dunia usaha dan dunia industri. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, selama ini masih banyak PKBM yang hanya menggantungkan dukungan dana block grent dari subdin PLS propinsi jatim maupun direktorat PNF. Padahal banyak instansi yang dapat diakses, sehingga sudah waktunya PKBM mengembangkan jaring kemitraan dengan berbagai lembaga terkait. Begitu juga pengadministrasian kelembagaan haruslah tertib dan baik, khususnya dalam pengelolaan keuangan yang dapat dipertangungjawabkan. Sudah waktunya model ”one man show” dalam mengelola dana bantuan program ditinggalkan, karena model itu membuka peluang terjadinya penyelewengan. Untuk itulah, Kata pria berkaca mata ini, PKBM memperbaiki sistem managemennya serta mengelola program yang nyata sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga keberadaan PKBM menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. * (edi basuki)
Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Asida, kota Batu, Malang ini, materi yang disampaikan meliputi Kebijakan Program PNFI dan Nilai Budaya, Kebijakan program dikmas dan kesetaraan, pemasaran produk dan HAKI, Etos kerja, Managemen PKBM, dan Kebijakan PAUD. Semuanya disampaikan dengan menggunakan metode dialogis partisipatori sehingga suasana kelas menjadi ”enjoyfull learning” tidak membosankan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam rangka menambah informasi tentang managemen PKBM dan pentingnya membangun jaring kemitraan.” Kata Bahtiar, pengelola PKBM ”Cempaka”, Kabupaten Pasuruan dengan penuh antusias. Ditambahkan pula bahwa kegiatan ini kedepan, disamping sebagai media temu pengelola PKBM, sekaligus sebagai wahana dialog antara anggota dan pengurus forum PKBM.
Suliadi dari PKBM ”Bumi Rahayu”, Kabupaten Trenggalek mengatakan bahwa mengajak masyarakat untuk aktif dalam kegiatan PNF masih sulit karena dana program yang terbatas. Untuk itulah, masih menurut Pak Di, panggilan akrabnya, pengurus PKBM harus aktif melakukan sosialisasi program PNF kepada masyarakat dan menjalin kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah untuk mendapatkan dukungan dana program sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam dialog yang di pimpin oleh Drs. Lukas Khambali, SH, M.Hum dari PKBM ”Bina Abdi Wiyata” Kota Surabaya ini muncul sebuah wacana bahwa kedepan, program PKBM harus dikemas sedemikian rupa agar menarik minat masyarakat yang belum ’terdidik’ mengikuti program yang diselenggarakan PKBM sesuai kebutuhannya. Perlu juga diadakan sebuah kegiatan kebersamaan sebagai ’ragi belajar’ antara Tutor, Pengelola dan warga belajar untuk menumbuhkan rasa ”Melu Handarbeni” PKBM demi kemajuan penyelenggaraan program yang memberdayakan.
Eddy Mudjiono, sebagai ketua pelaksana, dalam pengerahan penutupan mengharapkan agar PKBM dapat mengoptimalkan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui program pendidikan nonformal yang disesuaikan dengan permintaan dunia usaha dan dunia industri. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, selama ini masih banyak PKBM yang hanya menggantungkan dukungan dana block grent dari subdin PLS propinsi jatim maupun direktorat PNF. Padahal banyak instansi yang dapat diakses, sehingga sudah waktunya PKBM mengembangkan jaring kemitraan dengan berbagai lembaga terkait. Begitu juga pengadministrasian kelembagaan haruslah tertib dan baik, khususnya dalam pengelolaan keuangan yang dapat dipertangungjawabkan. Sudah waktunya model ”one man show” dalam mengelola dana bantuan program ditinggalkan, karena model itu membuka peluang terjadinya penyelewengan. Untuk itulah, Kata pria berkaca mata ini, PKBM memperbaiki sistem managemennya serta mengelola program yang nyata sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga keberadaan PKBM menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. * (edi basuki)
Komentar Terkini (9 komentar)
- HAIRUN ZAINUDDIN,SH, Selasa, 15 Juni 2010 21:00:40
Saya dari Ketua PKBM Andi Djemma Kabupaten Luwu Prov.Sulawesi Selatan,sangat mendukung segala ke... - budi, Rabu, 09 Desember 2009 14:55:14
kalo boleh saran mengenai mensosialisikan kelembagaan PKBM mungkin akan lebih baik jika mengganti... - rega kurniawan, Rabu, 25 November 2009 11:26:42
Sy mhsiswa Unesa jurusan PLS... smoga waktu sy lulus lgsung dapat di rekrut sma PTK-PNF... Amiiii... - hari, Senin, 24 Agustus 2009 11:59:31
mari dg pkbm kita bangkitkan pendidikan sehingga masyarakat mempunyai kemauan sikap mandiri - bahrudin, Senin, 17 Agustus 2009 23:29:32
kepada mantan peserta ortek pengelola PKBM '09 kami ucapkan selamat menyambut datangnya bula...









