Artikel
Selasa, 08 Januari 2008 11:32:49
Yanti Muchtar
Meningkatkan Derajad Perempuan Lewat Pendidikan
Kategori: Umum (2264 kali dibaca)
Pertama-tama, kalau kita lihat data statistic di Indonesia misalnya angka buta huruf perempuan itu sangat tinggi. duapertiga dari mereka yang buta huruf di Indonesia adalah perempuan, kemudian kita juga melihat bahwa angka kemiskinan perempuan di Indonesia juga masih tinggi. Kemudian yang menjadi pertanyaan yang menarik adalah bagaimana memberikan kapasitas kepada mereka agar mereka bisa tidak buta huruf lagi dan mereka bisa juga keluar dari kemiskinannya.
Itulah penjelasan Yanti Muchtar, direktur Kapal Perempuan atau Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada isu pendidikan alternative bagi perempuan di Indonesia. Yanti Muchtar mencoba melihat apakah perempuan yang sudah tidak bersekolah dan tidak memiliki kemampuan secara finansial ini, punya kesempatan kedua untuk belajar lagi. Yanti melihat bahwa pendidikan adalah cara terbaik bagi mereka keluar dari kemiskinan.
Salah satu proyek yang dijalankan KAPAL Perempuan saat ini adalah Sekolah Perempuan Ciliwung, sebuah sekolah yang didirikan di wilayah sepanjang bantaran kali Ciliwung di Jakarta, yang dikenal sebagai wilayah miskin dan kumuh.
Hal yang cukup mengagetkan, di ibukota Indonesia di Jakarta, masih ada yang buta huruf. Dan itu terutama yang ada di daerah slum area atau daerah2 miskin kota. Oleh karena itu kami coba dekati beberapa wilayah yang paling miskin di Jakarta. Kami temukan bahwa wilayah yang paling miskin itu adalah wilayah yang dialiri oleh Kali Ciliwung yang setiap tahun banjir, dan itu kami kemudian mengambil dua lokasi yang pasti tiap tahun banjir disana, pertama di Kalibata dan di Klender.
Di dua lokasi itulah, Yanti Muchtar bersama teman-temannya, memberikan pendidikan alternative bagi ibu-ibu yang ada disana. Setiap dua kali seminggu, mereka mengajarkan baca tulis, sekaligus ketrampilan dasar bagi mereka yang ingin mengembangkan usaha sendiri.
Menariknya, ibu-ibu di daerah tersebut sangat antusias, bahkan mereka sendiri yang mengatur jadwal mereka yang padat dengan mengurus anak dan rumah tangga, sehingga punya waktu luang untuk belajar dan mengembangkan dirinya, di sekolah alternatif tersebut.
Menariknya, mereka sendiri yang mau. Jadi kalau kita membayangkan, mereka kan sangat sibuk sekali, tapi ternyata yang kita kadang-kadang lupa bahwa mereka pun punya keinginan besar untuk belajar. Misalnya begini, salah satu contoh kasus, ketika kami pertama kali datang ke Klender, ada ibu2 tukang sayur, dia punya kebutuhan untuk menulis karena banyak sekali pelanggannya yang berhutang. Trus nanti kalau dia datang ke pelanggannya, pelanggannya hanya bilang “lunas”. Dia merasa kadang2 apakah saya dibohongi atau tidak, jadi dia merasa itu kebutuhannya sendiri.
Para ibu-ibu di wilayah miskin Jakarta itulah yang mengatur sendiri waktu belajar mereka. Biasanya, -Yanti menjelaskan- waktu belajar adalah jam 1 siang, dimana ibu-ibu itu sudah selesai mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya. Di saat itulah, ibu-ibu yang masih buta huruf itu belajar membaca, menulis, meningkatkan ketrampilan dasar mereka, termasuk mengelola koperasi simpan pinjam bagi mereka sendiri.
Saudara, untuk mengetahui pelajaran apa saja yang diperlukan oleh ibu-ibu di daerah miskin kota tersebut, KAPAL Perempuan sebagai fasilitator, menyediakan sebuah modul khusus, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan selama 2-3 bulan sebelumnya. Bahkan saat ini, KAPAL Perempuan sudah mempublikasikan modul yang mengintegrasikan kebutuhan bagi perempuan miskin kota dan perempuan miskin desa. Modul ini nantinya juga bisa dipakai oleh mereka yang ingin melakukan pendidikan alternative di berbagai komunitas.
Bagaimanakah respon yang didapat dari kerja yang dilakukan Yanti Muchtar dan kawan-kawannya di KAPAL Perempuan ini?
Tanggapan mereka baik sekali, karena kami sudah bekerja di dua komunitas itu selama sekitar 4 tahun artinya mereka sudah melihat bahwa ibu2 ini sudah mempunyai koperasi simpan pinjam, dan terakhir kemarin, waktu banjir besar, Januari tahun 2007 ini, ibu-ibu di Klender dan di Kalibata, mereka yang mengorganisir, bagaimana mereka mengumpulkan bantuan, bagaimana mereka mendistribusi bantuan, membuat posko dan macam-macam. Sehingga sekarang setelah ada banjir kemarin, ada 100 ibu-ibu yang mau menjadi anggota baru, karena mereka baru melihat, oh ibu-ibu ini sekarang sudah pandai untuk merespon masalah mereka.
Yanti Muchtar dari KAPAL Perempuan, sebuah LSM yang bergerak di bilang pendidikan alternatif bagi perempuan Indonesia.
Saudara, proyek yang dijalankan Yanti Muchtar dan teman-teman dari Kapal Perempuan bisa dikatakan berhasil. Terbukti setelah 4 tahun berjalan, jumlah peserta yang ikut serta semakin bertambah. Disamping itu, Sekolah Perempuan yang tadinya mendapat bantuan biaya dari pemerintah Australia, sejak 2 tahun terakhir pun sudah bisa mandiri, karena semua biayanya dikelola oleh pengurus yang juga mendirikan Koperasi Simpan Pinjam.
Namun di awal kerja ini, Yanti mengatakan hambatan masih tetap ditemui, terutama menjawab keragu-raguan para ibu di wilayah miskin kota tersebut, yang selama ini tidak terbiasa berorganisasi dan berkumpul bersama.
Jadi awalnya mereka juga –karena ini adalah daerah miskin kota, jadi banyak individualis nya begitu, ya udah ini masalah saya sendiri, gak usah sharing ke orang lain, memang ini nasib saya. Nah menumbuhkan motivasi ini yang relative lama. Tapi setelah motivasi ada dan sudah muncul pengurus2 diantara mereka sendiri, pemimpin-pemimpin diantara mereka sendiri, sekarang ketua-ketua mereka lah yang memotivasi perempuan lain di sekitarnya.
Semangat dari ibu-ibu ini untuk mau maju mengejar ketertinggalannya lah, yang menjadi pacuan Yanti Muchtar untuk berkecimpung di dunia pendidikan bagi perempuan. Yanti berfikir, ketertinggalan hanya bisa diatasi dengan pendidikan dan pendidikan adalah hak bagi tiap warga negara.
Karena saya fikir, bahwa perempuan Indonesia masih tertinggal dalam berbagai aspek, tapi yang saya fikir paling penting adalah aspek pendidikan. Dan pendidikan atau proses pembelajaran apakah itu di wilayah formal atau non formal, merupakan hak setiap warga Indonesia untuk mendapatkannya. Jadi saya pikir, saya ingin bergerak disitu, membantu bagaimana perempuan yang selama ini terpinggirkan bisa mendapatkan hak nya untuk mendapatkan pembelajaran yang cukup baik.
Yanti Muchtar mengatakan, di Indonesia saat ini sudah ada Komisi Nasional Hak Azasi Manusia atau Komnas HAM, sudah ada Komnas Anti kekerasan terhadap perempuan, atau pun Komnas Anak. Tapi sayangnya, belum ada komnas yang khusus menangani soal pendidikan, padahal persoalan pendidikan di Indonesia adalah persoalan yang kompleks dan pelik pemecahannya. Untuk itulah, KAPAL Perempuan akan tetap berkomitmen untuk mengedepankan pendidikan khususnya bagi perempuan.
Oleh karena itu rencana jangka panjang kami adalah bagaimana KAPAL bisa mengkampanyekan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah sebuah prasyarat penting bagi sebuah bangsa agar dia bisa mencapai kesejahteraannya. Karena itu juga luas maka kita akan konsentrasi pada keaksaraan perempuan, jadi kita akan melakukan kampanye yang cukup besar, bagaimana keaksaraan perempuan ini akan menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah.
Yanti Muchtar mengingatkan, bahwa kerja mencerdaskan bangsa ini juga sebenarnya membutuhkan peran dan partisipasi masyarakat. Tidak perlu muluk-muluk mendirikan gedung sekolah, tapi secara sederhana misalnya, mengajari tetangga atau orang di sekitar lingkungannya yang masih buta huruf, merupakan bentuk peranserta yang bisa membawa hasil luar biasa di jangka panjang. Berdasarkan pengalaman KAPAL Perempuan, upaya mencerdaskan bangsa ini juga dimulai bukan dengan faktor financial sebagai faktor utamanya. Yang penting adalah semangat untuk memulai. Yanti Muchtar.
Yang penting adalah memang kalau ada yang ingin melakukan hal yang sama, pertama adalah, memiliki modul. Kebetulan modul KAPAL sudah dipublikasi, mungkin bisa dipakai. Tapi pemerintah sendiri sudah punya banyak sekali modul-modul untuk keaksaraan ini, saya rasa itu bisa dipakai. Kalau soal lain saya pikir mereka akan antusias sekali dan tidak membutuhkan pembiayaan karena dilakukannya bisa dimana saja, bisa di mesjid, bisa di gereja, atau di tempat-tempat balai pertemuan RW atau di rumah-rumah. Saya pikir itu tidak menjadi masalah. Tapi yang menjadi penting adalah bagaimana meningkatkan keinginan mereka yang sudah bisa baca tulis agar juga menularkan kemampuan itu ke teman-temannya atau saudara2nya yang belum bisa baca tulis. Jadi tidak ada hambatan harusnya, menurut saya.
Yanti Muchtar, dari KAPAL Perempuan, atau Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada isu pendidikan alternative bagi perempuan di Indonesia.
Saudara, semoga profil yang kami tampilkan kali ini bisa memberikan anda inspirasi untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi sekitar anda. Sesuatu yang mungkin sederhana, tapi memiliki dampak besar bagi masyarakat yang ada di lingkungan anda. Terimakasih atas perhatian yang telah anda berikan, kritik saran dan masukan untuk program ini dapat dialamatkan ke efika@mediacorp.com.sg, saya Fika Rosemary undur diri dari INSPIRASI.
(Kosasih) Itulah penjelasan Yanti Muchtar, direktur Kapal Perempuan atau Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada isu pendidikan alternative bagi perempuan di Indonesia. Yanti Muchtar mencoba melihat apakah perempuan yang sudah tidak bersekolah dan tidak memiliki kemampuan secara finansial ini, punya kesempatan kedua untuk belajar lagi. Yanti melihat bahwa pendidikan adalah cara terbaik bagi mereka keluar dari kemiskinan.
Salah satu proyek yang dijalankan KAPAL Perempuan saat ini adalah Sekolah Perempuan Ciliwung, sebuah sekolah yang didirikan di wilayah sepanjang bantaran kali Ciliwung di Jakarta, yang dikenal sebagai wilayah miskin dan kumuh.
Hal yang cukup mengagetkan, di ibukota Indonesia di Jakarta, masih ada yang buta huruf. Dan itu terutama yang ada di daerah slum area atau daerah2 miskin kota. Oleh karena itu kami coba dekati beberapa wilayah yang paling miskin di Jakarta. Kami temukan bahwa wilayah yang paling miskin itu adalah wilayah yang dialiri oleh Kali Ciliwung yang setiap tahun banjir, dan itu kami kemudian mengambil dua lokasi yang pasti tiap tahun banjir disana, pertama di Kalibata dan di Klender.
Di dua lokasi itulah, Yanti Muchtar bersama teman-temannya, memberikan pendidikan alternative bagi ibu-ibu yang ada disana. Setiap dua kali seminggu, mereka mengajarkan baca tulis, sekaligus ketrampilan dasar bagi mereka yang ingin mengembangkan usaha sendiri.
Menariknya, ibu-ibu di daerah tersebut sangat antusias, bahkan mereka sendiri yang mengatur jadwal mereka yang padat dengan mengurus anak dan rumah tangga, sehingga punya waktu luang untuk belajar dan mengembangkan dirinya, di sekolah alternatif tersebut.
Menariknya, mereka sendiri yang mau. Jadi kalau kita membayangkan, mereka kan sangat sibuk sekali, tapi ternyata yang kita kadang-kadang lupa bahwa mereka pun punya keinginan besar untuk belajar. Misalnya begini, salah satu contoh kasus, ketika kami pertama kali datang ke Klender, ada ibu2 tukang sayur, dia punya kebutuhan untuk menulis karena banyak sekali pelanggannya yang berhutang. Trus nanti kalau dia datang ke pelanggannya, pelanggannya hanya bilang “lunas”. Dia merasa kadang2 apakah saya dibohongi atau tidak, jadi dia merasa itu kebutuhannya sendiri.
Para ibu-ibu di wilayah miskin Jakarta itulah yang mengatur sendiri waktu belajar mereka. Biasanya, -Yanti menjelaskan- waktu belajar adalah jam 1 siang, dimana ibu-ibu itu sudah selesai mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya. Di saat itulah, ibu-ibu yang masih buta huruf itu belajar membaca, menulis, meningkatkan ketrampilan dasar mereka, termasuk mengelola koperasi simpan pinjam bagi mereka sendiri.
Saudara, untuk mengetahui pelajaran apa saja yang diperlukan oleh ibu-ibu di daerah miskin kota tersebut, KAPAL Perempuan sebagai fasilitator, menyediakan sebuah modul khusus, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan selama 2-3 bulan sebelumnya. Bahkan saat ini, KAPAL Perempuan sudah mempublikasikan modul yang mengintegrasikan kebutuhan bagi perempuan miskin kota dan perempuan miskin desa. Modul ini nantinya juga bisa dipakai oleh mereka yang ingin melakukan pendidikan alternative di berbagai komunitas.
Bagaimanakah respon yang didapat dari kerja yang dilakukan Yanti Muchtar dan kawan-kawannya di KAPAL Perempuan ini?
Tanggapan mereka baik sekali, karena kami sudah bekerja di dua komunitas itu selama sekitar 4 tahun artinya mereka sudah melihat bahwa ibu2 ini sudah mempunyai koperasi simpan pinjam, dan terakhir kemarin, waktu banjir besar, Januari tahun 2007 ini, ibu-ibu di Klender dan di Kalibata, mereka yang mengorganisir, bagaimana mereka mengumpulkan bantuan, bagaimana mereka mendistribusi bantuan, membuat posko dan macam-macam. Sehingga sekarang setelah ada banjir kemarin, ada 100 ibu-ibu yang mau menjadi anggota baru, karena mereka baru melihat, oh ibu-ibu ini sekarang sudah pandai untuk merespon masalah mereka.
Yanti Muchtar dari KAPAL Perempuan, sebuah LSM yang bergerak di bilang pendidikan alternatif bagi perempuan Indonesia.
Saudara, proyek yang dijalankan Yanti Muchtar dan teman-teman dari Kapal Perempuan bisa dikatakan berhasil. Terbukti setelah 4 tahun berjalan, jumlah peserta yang ikut serta semakin bertambah. Disamping itu, Sekolah Perempuan yang tadinya mendapat bantuan biaya dari pemerintah Australia, sejak 2 tahun terakhir pun sudah bisa mandiri, karena semua biayanya dikelola oleh pengurus yang juga mendirikan Koperasi Simpan Pinjam.
Namun di awal kerja ini, Yanti mengatakan hambatan masih tetap ditemui, terutama menjawab keragu-raguan para ibu di wilayah miskin kota tersebut, yang selama ini tidak terbiasa berorganisasi dan berkumpul bersama.
Jadi awalnya mereka juga –karena ini adalah daerah miskin kota, jadi banyak individualis nya begitu, ya udah ini masalah saya sendiri, gak usah sharing ke orang lain, memang ini nasib saya. Nah menumbuhkan motivasi ini yang relative lama. Tapi setelah motivasi ada dan sudah muncul pengurus2 diantara mereka sendiri, pemimpin-pemimpin diantara mereka sendiri, sekarang ketua-ketua mereka lah yang memotivasi perempuan lain di sekitarnya.
Semangat dari ibu-ibu ini untuk mau maju mengejar ketertinggalannya lah, yang menjadi pacuan Yanti Muchtar untuk berkecimpung di dunia pendidikan bagi perempuan. Yanti berfikir, ketertinggalan hanya bisa diatasi dengan pendidikan dan pendidikan adalah hak bagi tiap warga negara.
Karena saya fikir, bahwa perempuan Indonesia masih tertinggal dalam berbagai aspek, tapi yang saya fikir paling penting adalah aspek pendidikan. Dan pendidikan atau proses pembelajaran apakah itu di wilayah formal atau non formal, merupakan hak setiap warga Indonesia untuk mendapatkannya. Jadi saya pikir, saya ingin bergerak disitu, membantu bagaimana perempuan yang selama ini terpinggirkan bisa mendapatkan hak nya untuk mendapatkan pembelajaran yang cukup baik.
Yanti Muchtar mengatakan, di Indonesia saat ini sudah ada Komisi Nasional Hak Azasi Manusia atau Komnas HAM, sudah ada Komnas Anti kekerasan terhadap perempuan, atau pun Komnas Anak. Tapi sayangnya, belum ada komnas yang khusus menangani soal pendidikan, padahal persoalan pendidikan di Indonesia adalah persoalan yang kompleks dan pelik pemecahannya. Untuk itulah, KAPAL Perempuan akan tetap berkomitmen untuk mengedepankan pendidikan khususnya bagi perempuan.
Oleh karena itu rencana jangka panjang kami adalah bagaimana KAPAL bisa mengkampanyekan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah sebuah prasyarat penting bagi sebuah bangsa agar dia bisa mencapai kesejahteraannya. Karena itu juga luas maka kita akan konsentrasi pada keaksaraan perempuan, jadi kita akan melakukan kampanye yang cukup besar, bagaimana keaksaraan perempuan ini akan menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah.
Yanti Muchtar mengingatkan, bahwa kerja mencerdaskan bangsa ini juga sebenarnya membutuhkan peran dan partisipasi masyarakat. Tidak perlu muluk-muluk mendirikan gedung sekolah, tapi secara sederhana misalnya, mengajari tetangga atau orang di sekitar lingkungannya yang masih buta huruf, merupakan bentuk peranserta yang bisa membawa hasil luar biasa di jangka panjang. Berdasarkan pengalaman KAPAL Perempuan, upaya mencerdaskan bangsa ini juga dimulai bukan dengan faktor financial sebagai faktor utamanya. Yang penting adalah semangat untuk memulai. Yanti Muchtar.
Yang penting adalah memang kalau ada yang ingin melakukan hal yang sama, pertama adalah, memiliki modul. Kebetulan modul KAPAL sudah dipublikasi, mungkin bisa dipakai. Tapi pemerintah sendiri sudah punya banyak sekali modul-modul untuk keaksaraan ini, saya rasa itu bisa dipakai. Kalau soal lain saya pikir mereka akan antusias sekali dan tidak membutuhkan pembiayaan karena dilakukannya bisa dimana saja, bisa di mesjid, bisa di gereja, atau di tempat-tempat balai pertemuan RW atau di rumah-rumah. Saya pikir itu tidak menjadi masalah. Tapi yang menjadi penting adalah bagaimana meningkatkan keinginan mereka yang sudah bisa baca tulis agar juga menularkan kemampuan itu ke teman-temannya atau saudara2nya yang belum bisa baca tulis. Jadi tidak ada hambatan harusnya, menurut saya.
Yanti Muchtar, dari KAPAL Perempuan, atau Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada isu pendidikan alternative bagi perempuan di Indonesia.
Saudara, semoga profil yang kami tampilkan kali ini bisa memberikan anda inspirasi untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi sekitar anda. Sesuatu yang mungkin sederhana, tapi memiliki dampak besar bagi masyarakat yang ada di lingkungan anda. Terimakasih atas perhatian yang telah anda berikan, kritik saran dan masukan untuk program ini dapat dialamatkan ke efika@mediacorp.com.sg, saya Fika Rosemary undur diri dari INSPIRASI.
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar









