Kolom Pakar
Sabtu, 19 Januari 2008 01:09:46
PADU Penentu Mutu Sumber Daya Manusia
Kategori: Insan Peduli PTKPNF (2552 kali dibaca)
Bagi orangtua yang tahu, tampaknya tak perlu disangkal lagi bahwa pendidikan anak dini usia (PADU) sangat diperlukan untuk merangsang anak agar bisa tumbuh optiomal. Tapi ternyata bahkan di daerah perkotaan sekalipun, kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya PADU masih jauh dari harapan karena masih jadi sesuatu yang ekslusif.
“Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas anak di Indonesia Indonesia, tampaknya jauh lebih baik daripada kesadaran akan pentingnya pendidikan,” kata Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas Fasli Jalal dalam Buletin PADU edisi Desember 2002.
Mengutip hasil penelitian Kantor Menneg Pemberdayaan Perempuan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada 2001, tambah Fasli, menunjukkan bahwa kebanyakan warga masyarakat menilai pendidikan belum perlu diberikan pada anak dini usia. Bisa dibayangkan di daerah lain yang lebih terbelakang.
Menurutnya hal itu sangat wajar mengingat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PADU masih sangat rendah. Umumnya warga masyarakat berpandangan, kata dokter gizi medik yang pernah menjadi staf ahli di BKKBN ini, bahwa pendidikan identik dengan sekolah sehingga pendidikan di usia dini dinilai belum perlu.
Padahal, lanjutnya, kurangnya pemahaman akan konsep PADU sangat erat hubungannya dengan persoalan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia saat ini. Fasli mengungkapkan masalah pendidikan yang sangat mendasar masih berkisar pada pada belum tercapainya pemerataan.
Soal cakupan dan mutu
Data arus siswa dari Balitbang Diknas pada 2000 menunjukkan dari sekitar 26 juta anak usia 0-6 tahun, ungkapnya, baru sekitar 7,5 juta (27%) yang terlayani berbagai satuan pendidikan prasekolah atau PADU. Anak usia 4-6 tahun yang total jumlahnya 12,6 juta masih sekitar 8 juta (63,4%) yang belum terlayani pendidikannya.
Di samping itu belum semua anak usia 7-15 tahun tertampung di SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan SLTP/MTs (Madrasah Tsanawiyah). Untuk tingkat SD/MI (7-12 tahun) baru terlayani 24,4 juta dari 25,8 juta yang berarti ada 1,4 juta anak yang tidak bersekolah di SD/MI atau fasilitas yang ada baru mencakup 94,5% peserta didik.
Sedangkan usia SLTP/MTs (13-15 tahun) baru terlayani 7,29 juta dari 13,1 juta anak yang berarti ada 5,8 juta anak yang tidak sekolah atau cakupan peserta didik baru mencapai 55,7%. Jika melihat retensi kohor (waktu kelahiran sama), anak masuk SD yang langsung dapat melanjutkan sampai perguruan tinggi angkanya lebih rendah lagi.
Yaitu hanya 11,6% pada waktu yang seharusnya. Berarti sekitar 88,4% tertinggal di perjalanan dari jenjang pendidikan terendah, baik karena tinggal kelas, putus sekolah di berbagai jenjang selanjutnya maupun tidak melanjutkan lagi sekolahnya walaupun sudah lulus dari satu jenjang pendidikan.
Sementara itu masalah yang tak bisa diabaikan adalah rendahnya mutu hasil pendidikan. Penduduk buta huruf usia 10 tahun ke atas masih tinggi yaitu sekitar 18,7 juta orang (11%) dan usia 10-44 tahun tercatat 5,9 juta orang. Tingginya angka buta huruf karena masih terus terjadi siswa putus SD di kelas awal (1-3) yaitu 250.000-300.000 per tahun.
Rendahnya mutu hasil pendidikan ini tak berdiri sendiri melainkan tergantung mutu calon siswa sebagai masukan mentah (raw input) sistem pendidikan. Jika bicara kualitas siswa, maka calon siswa pada jenjang pendidikan terendah (SD/MI) adalah anak dini usia.
Masalahnya adalah bagaimana kesiapan bersekolah (school readiness) anak dini usia. Hal ini terlihat jelas pada hasil penelitian Balitbang Dinas Depdiknas pada 1999 yang mengindikasikan tingginya angka mengulang di kelas awal SD (13% di kelas I dan 9% kelas II) diduga karena lemahnya pembinaan anak pada masa dini usia. Dengan kata lain ada korelasi positif antara pendidikan prasekolah dan kesiapan anak memasuki sekolah.
Sedangkan data Depdiknas pada 2000 menyangkut jumlah anak usia 4-6 tahun yang tertampung di TK sekitar 1,6 juta (12%) sementara yang di RA sekitar 0,4 juta (5%). Ini berarti untuk jenjang TK/RA (Raudatul Atfhal) pun di Indonesia masih termasuk eksklusif karena baru dinikmati sebagian kecil masyarakat.
“Padahal berdasar kajian neurologi, penanganan pendidikan anak yang dimulai setelah usia TK (4 tahun) dinilai sangat telat. Usia 4 tahun pertama justru lebih penting dan menentukan," kata Fasli.
Dia mengatakan selama ini perhatian Indonesia terhadap PADU masih sangat rendah dibanding negara lain, khususnya yang maju. Dari pengalaman negara maju, lanjutnya, konsep pengembangan SDM yang mencakup gizi, kesehatan dan pendidikan, justru harus dilakukan secara intensif dan utuh sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.
Tiga pilar PADU
Di Korea Selatan dan Singapura, contohnya, hampir seluruh anak dini usia telah terlayani PADU. Contoh lain di Malaysia pelayanan PADU telah mencakup hampir 70% anak. Bahkan di Singapura penuntasan masalah terkait penggunaan dua bahasa, Cina dan Inggris, telah dituntaskan di tingkat TK.
"Hal ini terbukti dari peringkat mutu SDM berdasarkan Human Development Index yang dicapai Korea Selatan, Singapura dan Malaysia jauh lebih baik daripada peringkat Indonesia," ujar Fasli seraya menyimpulkan PADU jelas merupakan hal penting yang mesti mendapat perhatian selayaknya dan diupayakan secara maksimal.
Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa masa dini usia merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak. Masa ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak karena capaian perkembangan yang berlangsung di masa ini sangat berpengaruh terhadap capaian perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasa.
"Periode ini hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda kehadirannya. Begitu lewat masanya berarti habislah peluangnya. Hal inilah tampaknya yang masih banyak disia-siakan oleh sebagian masyarakat kita. Akibatnya pengabaian ini berdampak terhadap kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan," ujarnya.
Dia menambahkan pada periode kritis ini anak memerlukan berbagai asupan terutama gizi, kesehatan dan pendidikan yang merupakan pilar utama pengembangan anak dini usia. Penanganan masalah gizi dan kesehatan saja tidak cukup karena harus dibarengi dengan penanganan pendidikannya sebagai kesatuan yang utuh dan terpadu.
Singkatnya program penanggulangan masalah kekurangan gizi dan kesehatan dasar untuk survival memang sangat diperlukan. "Tapi apa artinya bisa bertahan (survive) kalau kemampuan dasar intelektual dan psikososialnya rendah sehingga nantinya hanya akan menjadi beban orang lain."
Orangtua guru terpenting
Fasli membenarkan bahwa pengalaman yang kaya akan menghasilkan otak yang kaya pula. Itu semua, kata dia, karena pengetahuan seseorang merupakan akumulasi dari dari pengalaman yang didapatnya. Banjir pengalaman sensorik dari berbagai indera pada dini usia akan memperkokoh berbagai sambungan di otak.
Indera merupakan pintu gerbang pengetahuan, sementara otak sebagai gudang yang sekaligus berfungsi mengolah serta mengeluarkannya sewaktu-waktu informasi diperlukan. Masalahnya adalah bagaimana memilih pengalaman yang mendidik dan bagaimana membimbing anak pada masa dini usia.
"Bicara tentang pendidikan hendaknya jangan terpaku pada sistem persekolahan formal yang dibatasi ruang berdinding putih dengan bangku tertata rapi. Ruangan tanpa rangsangan semacam itu justru menghambat perkembangan anak.Bagi anak dini usia justru rumahtangga merupakan lingkungan belajar utama dan orangtua merupakan guru yang terpenting."
Menurutnya peran rumahtangga dan orangtua ini perlu ditekankan karena terkait erat dengan fungsi PADU yang bukan sekadar memberi berbagai pengetahuan pada anak, melainkan yang tak kalah penting mengajak anak berpikir, bereksplorasi, bergaul, berekspresi dan berimajinasi tentang berbagai hal.
“Harapannya itu semua dapat merangsang pertumbuhan sinaps baru dan memperkuat sambungan yang sudah ada di antara sel-sel sarafnya serta menyeimbangkan fungsi dua belahan otaknya,” papar Fasli menambahkan lingkungan yang baik bagi PADU adalah yang membuat anak melakukan berbagai kegiatan tersebut.
Bermain mendukung PADU
Bila orangtua, karena satu dan lain hal, tak dapat melaksanakan sepenuhnya fungsi sebagai pendidik, dia dapat mengalihkan sebagian dapat kepada pengasuh, lembaga pendidikan atau penitipan anak, atau siapa saja yang mampu berperan sebagai pengganti.
Pengganti ini bisa berperan baik di lingkungan keluarga (pengasuh atau baby sitter) maupun di luar lingkungan keluarga seperti TPA, playgroup atau lembaga PADU lain. Pada prinsipnya semua hal baru dapat dikenalkan kepada anak sejak lahir, asal diberikan selaras dengan tahap tumbuh-kembang dan bakat masing-masing anak. Dalam kaitan ini menciptakan lingkungan kondusif bagi perkembangan anak sangat penting. Prinsipnya pengaturan lingkungan yang memungkinkan anak bergerak bebas dan aman saat bermain dan bereksplorasi merupakan kondisi yang sangat mendukung perkembangan anak.
Hal ini diperlukan karena tak selamanya anak mau bermain bersama atau ditemani. Bermain dan bereksplorasi sangat penting bagi anak guna meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas serta diperolehnya beragam pengalaman baru. Bila anak tekun berlama-lama dalam satu kegiatan ini menandakan tingginya minat dia. Pasalnya secara psikologis anak usia di bawah 6 tahun ketekunannya terhadap suatu obyek tak lebih dari dua menit.
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tapi menyenangkan. Menurut Conny Semiawan pada 2002, bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena adanya hadiah atau pujian. "Lewat bermain semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu. Dengan bebas bermain anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Lewat permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik, mental-intelektual maupun spiritual. Oleh karena itu bermain bagi anak dini usia merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek kemampuan.
"Belajar sambil bermain bagi bagi anak dini usia merupakan conditio sine qua non (kondisi yang mutlak ada), bila menginginkan anak sehat mental,” ujar Conny seraya menambahkan bahwa sayangnya banyak orangtua yang justru terlalu membebani dengan berbagai kegiatan dan bahkan target yang tak bisa dinikmati anaknya yang berusia dini.
* Rab A. Broto adalah penulis buku Psikologi Duit (Bornrich, 2006).
(Kosasih) “Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas anak di Indonesia Indonesia, tampaknya jauh lebih baik daripada kesadaran akan pentingnya pendidikan,” kata Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas Fasli Jalal dalam Buletin PADU edisi Desember 2002.
Mengutip hasil penelitian Kantor Menneg Pemberdayaan Perempuan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada 2001, tambah Fasli, menunjukkan bahwa kebanyakan warga masyarakat menilai pendidikan belum perlu diberikan pada anak dini usia. Bisa dibayangkan di daerah lain yang lebih terbelakang.
Menurutnya hal itu sangat wajar mengingat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PADU masih sangat rendah. Umumnya warga masyarakat berpandangan, kata dokter gizi medik yang pernah menjadi staf ahli di BKKBN ini, bahwa pendidikan identik dengan sekolah sehingga pendidikan di usia dini dinilai belum perlu.
Padahal, lanjutnya, kurangnya pemahaman akan konsep PADU sangat erat hubungannya dengan persoalan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia saat ini. Fasli mengungkapkan masalah pendidikan yang sangat mendasar masih berkisar pada pada belum tercapainya pemerataan.
Soal cakupan dan mutu
Data arus siswa dari Balitbang Diknas pada 2000 menunjukkan dari sekitar 26 juta anak usia 0-6 tahun, ungkapnya, baru sekitar 7,5 juta (27%) yang terlayani berbagai satuan pendidikan prasekolah atau PADU. Anak usia 4-6 tahun yang total jumlahnya 12,6 juta masih sekitar 8 juta (63,4%) yang belum terlayani pendidikannya.
Di samping itu belum semua anak usia 7-15 tahun tertampung di SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan SLTP/MTs (Madrasah Tsanawiyah). Untuk tingkat SD/MI (7-12 tahun) baru terlayani 24,4 juta dari 25,8 juta yang berarti ada 1,4 juta anak yang tidak bersekolah di SD/MI atau fasilitas yang ada baru mencakup 94,5% peserta didik.
Sedangkan usia SLTP/MTs (13-15 tahun) baru terlayani 7,29 juta dari 13,1 juta anak yang berarti ada 5,8 juta anak yang tidak sekolah atau cakupan peserta didik baru mencapai 55,7%. Jika melihat retensi kohor (waktu kelahiran sama), anak masuk SD yang langsung dapat melanjutkan sampai perguruan tinggi angkanya lebih rendah lagi.
Yaitu hanya 11,6% pada waktu yang seharusnya. Berarti sekitar 88,4% tertinggal di perjalanan dari jenjang pendidikan terendah, baik karena tinggal kelas, putus sekolah di berbagai jenjang selanjutnya maupun tidak melanjutkan lagi sekolahnya walaupun sudah lulus dari satu jenjang pendidikan.
Sementara itu masalah yang tak bisa diabaikan adalah rendahnya mutu hasil pendidikan. Penduduk buta huruf usia 10 tahun ke atas masih tinggi yaitu sekitar 18,7 juta orang (11%) dan usia 10-44 tahun tercatat 5,9 juta orang. Tingginya angka buta huruf karena masih terus terjadi siswa putus SD di kelas awal (1-3) yaitu 250.000-300.000 per tahun.
Rendahnya mutu hasil pendidikan ini tak berdiri sendiri melainkan tergantung mutu calon siswa sebagai masukan mentah (raw input) sistem pendidikan. Jika bicara kualitas siswa, maka calon siswa pada jenjang pendidikan terendah (SD/MI) adalah anak dini usia.
Masalahnya adalah bagaimana kesiapan bersekolah (school readiness) anak dini usia. Hal ini terlihat jelas pada hasil penelitian Balitbang Dinas Depdiknas pada 1999 yang mengindikasikan tingginya angka mengulang di kelas awal SD (13% di kelas I dan 9% kelas II) diduga karena lemahnya pembinaan anak pada masa dini usia. Dengan kata lain ada korelasi positif antara pendidikan prasekolah dan kesiapan anak memasuki sekolah.
Sedangkan data Depdiknas pada 2000 menyangkut jumlah anak usia 4-6 tahun yang tertampung di TK sekitar 1,6 juta (12%) sementara yang di RA sekitar 0,4 juta (5%). Ini berarti untuk jenjang TK/RA (Raudatul Atfhal) pun di Indonesia masih termasuk eksklusif karena baru dinikmati sebagian kecil masyarakat.
“Padahal berdasar kajian neurologi, penanganan pendidikan anak yang dimulai setelah usia TK (4 tahun) dinilai sangat telat. Usia 4 tahun pertama justru lebih penting dan menentukan," kata Fasli.
Dia mengatakan selama ini perhatian Indonesia terhadap PADU masih sangat rendah dibanding negara lain, khususnya yang maju. Dari pengalaman negara maju, lanjutnya, konsep pengembangan SDM yang mencakup gizi, kesehatan dan pendidikan, justru harus dilakukan secara intensif dan utuh sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.
Tiga pilar PADU
Di Korea Selatan dan Singapura, contohnya, hampir seluruh anak dini usia telah terlayani PADU. Contoh lain di Malaysia pelayanan PADU telah mencakup hampir 70% anak. Bahkan di Singapura penuntasan masalah terkait penggunaan dua bahasa, Cina dan Inggris, telah dituntaskan di tingkat TK.
"Hal ini terbukti dari peringkat mutu SDM berdasarkan Human Development Index yang dicapai Korea Selatan, Singapura dan Malaysia jauh lebih baik daripada peringkat Indonesia," ujar Fasli seraya menyimpulkan PADU jelas merupakan hal penting yang mesti mendapat perhatian selayaknya dan diupayakan secara maksimal.
Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa masa dini usia merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak. Masa ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak karena capaian perkembangan yang berlangsung di masa ini sangat berpengaruh terhadap capaian perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasa.
"Periode ini hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda kehadirannya. Begitu lewat masanya berarti habislah peluangnya. Hal inilah tampaknya yang masih banyak disia-siakan oleh sebagian masyarakat kita. Akibatnya pengabaian ini berdampak terhadap kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan," ujarnya.
Dia menambahkan pada periode kritis ini anak memerlukan berbagai asupan terutama gizi, kesehatan dan pendidikan yang merupakan pilar utama pengembangan anak dini usia. Penanganan masalah gizi dan kesehatan saja tidak cukup karena harus dibarengi dengan penanganan pendidikannya sebagai kesatuan yang utuh dan terpadu.
Singkatnya program penanggulangan masalah kekurangan gizi dan kesehatan dasar untuk survival memang sangat diperlukan. "Tapi apa artinya bisa bertahan (survive) kalau kemampuan dasar intelektual dan psikososialnya rendah sehingga nantinya hanya akan menjadi beban orang lain."
Orangtua guru terpenting
Fasli membenarkan bahwa pengalaman yang kaya akan menghasilkan otak yang kaya pula. Itu semua, kata dia, karena pengetahuan seseorang merupakan akumulasi dari dari pengalaman yang didapatnya. Banjir pengalaman sensorik dari berbagai indera pada dini usia akan memperkokoh berbagai sambungan di otak.
Indera merupakan pintu gerbang pengetahuan, sementara otak sebagai gudang yang sekaligus berfungsi mengolah serta mengeluarkannya sewaktu-waktu informasi diperlukan. Masalahnya adalah bagaimana memilih pengalaman yang mendidik dan bagaimana membimbing anak pada masa dini usia.
"Bicara tentang pendidikan hendaknya jangan terpaku pada sistem persekolahan formal yang dibatasi ruang berdinding putih dengan bangku tertata rapi. Ruangan tanpa rangsangan semacam itu justru menghambat perkembangan anak.Bagi anak dini usia justru rumahtangga merupakan lingkungan belajar utama dan orangtua merupakan guru yang terpenting."
Menurutnya peran rumahtangga dan orangtua ini perlu ditekankan karena terkait erat dengan fungsi PADU yang bukan sekadar memberi berbagai pengetahuan pada anak, melainkan yang tak kalah penting mengajak anak berpikir, bereksplorasi, bergaul, berekspresi dan berimajinasi tentang berbagai hal.
“Harapannya itu semua dapat merangsang pertumbuhan sinaps baru dan memperkuat sambungan yang sudah ada di antara sel-sel sarafnya serta menyeimbangkan fungsi dua belahan otaknya,” papar Fasli menambahkan lingkungan yang baik bagi PADU adalah yang membuat anak melakukan berbagai kegiatan tersebut.
Bermain mendukung PADU
Bila orangtua, karena satu dan lain hal, tak dapat melaksanakan sepenuhnya fungsi sebagai pendidik, dia dapat mengalihkan sebagian dapat kepada pengasuh, lembaga pendidikan atau penitipan anak, atau siapa saja yang mampu berperan sebagai pengganti.
Pengganti ini bisa berperan baik di lingkungan keluarga (pengasuh atau baby sitter) maupun di luar lingkungan keluarga seperti TPA, playgroup atau lembaga PADU lain. Pada prinsipnya semua hal baru dapat dikenalkan kepada anak sejak lahir, asal diberikan selaras dengan tahap tumbuh-kembang dan bakat masing-masing anak. Dalam kaitan ini menciptakan lingkungan kondusif bagi perkembangan anak sangat penting. Prinsipnya pengaturan lingkungan yang memungkinkan anak bergerak bebas dan aman saat bermain dan bereksplorasi merupakan kondisi yang sangat mendukung perkembangan anak.
Hal ini diperlukan karena tak selamanya anak mau bermain bersama atau ditemani. Bermain dan bereksplorasi sangat penting bagi anak guna meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas serta diperolehnya beragam pengalaman baru. Bila anak tekun berlama-lama dalam satu kegiatan ini menandakan tingginya minat dia. Pasalnya secara psikologis anak usia di bawah 6 tahun ketekunannya terhadap suatu obyek tak lebih dari dua menit.
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tapi menyenangkan. Menurut Conny Semiawan pada 2002, bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena adanya hadiah atau pujian. "Lewat bermain semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu. Dengan bebas bermain anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Lewat permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik, mental-intelektual maupun spiritual. Oleh karena itu bermain bagi anak dini usia merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek kemampuan.
"Belajar sambil bermain bagi bagi anak dini usia merupakan conditio sine qua non (kondisi yang mutlak ada), bila menginginkan anak sehat mental,” ujar Conny seraya menambahkan bahwa sayangnya banyak orangtua yang justru terlalu membebani dengan berbagai kegiatan dan bahkan target yang tak bisa dinikmati anaknya yang berusia dini.
* Rab A. Broto adalah penulis buku Psikologi Duit (Bornrich, 2006).
Komentar Terkini (2 komentar)
- rosmini, Kamis, 01 Mei 2008 18:53:41
saya sangat setuju kalau pendidikan untuk anak usia dini harus distimulasi mulai dari dalam kandu... - mawar, Rabu, 16 April 2008 16:47:46
Memang Pak saat ini sangat dibutuhkan. Sayangnya para orang kurang mengerti akan pentingnya belaj...









