BERANDA
PROFIL KITA
JEJAK INFO
AGENDA
BIDIKAN LENSA
LEMBAGA PNF
KONSULTASI
KONTAK
 
Ekspresi
Minggu, 27 Mei 2007 14:03:12
“BORDIRAN KU DIKENAL”
Kategori: Umum (948 kali dibaca)

Pak... pak...,bu Sumi memanggil-manggil suaminya yang sedang asik dengarin radio. Siang itu hari sangat terik sekali, membuat pak sertos suaminya malas balik untuk bekerja ke sawah. Ada apa bu, koq manggil teriak-teriak. Ini loh pak, saya dapat undangan untuk menjadi Warga belajar di rumah bu Ruly, untuk belajar membordir. "Bapak ikut senang kan dengarnya?”, kata bu Surti meyakinkan pak Sertos yang tidak begitu semangat dengarnya.

Tapi bu Surti tidak patah semangat. Dia pura-pura tidak tahu suaminya acuh tak acuh itu, menurutnya yang penting suaminya mengizinkan dia dan anaknya ikut sebagai warga belajar di tempat bu Ruly. Dia langsung memegang tangan suaminya, “Pak, yang penting Bapak izinkan kami ya?, “ ya… ya… jawab pak Jumadi singkat. Bu Surti langsung loncat-loncat kegirangan, membuat Wati (anak yang sudah 2 tahun menganggur karena tidak ada biaya untuk melanjutkan ke SMP) terperangah, “ ada apa bu, sepertinya ibu mendapatkan rizki nomplok”.

Bu Surti langsung menangis sambil memeluk anaknya. Wati tambah tidak mengerti dengan sikap ibunya. “ Mulai besok kita dengan warga lainnya sama-sama belajar di rumah bu Ruly untuk belajar membordir”, Kata ibunya sambil mengusap-usap airmatanya tanda kegirangan. Bu Ruly salah satu warga yang sangat peduli dengan keadaan masyarakat di sekitar rumahnya. Dengan rela hati dia menjadikan bagian samping rumahnya untuk dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar bagi warganya yang mau.

Wati langsung lari menuju rumah bu Ruly, dia tidak mengira kalu Bu Ruly mau memilih ibunya yang pemulung itu untuk belajar di rumah nya yang paling mewah di daerah itu. Bu Ruly kaget melihat Wati yang langsung memegang tangannya, : “Terimakasih bu…, kata Wati sambil mencium tangan bu Ruly. “ Ibu telah menolong kami orang yang tak punya apa-apa ini”. ‘ Saya tidak memilih-milih warga di sini untuk belajar”. Mulai besok kita mulai belajar ya…, kata bu Ruly dengan senyuman tulusnya.

Seperti hari-hari sebelumnya, bu Surti sudah bangun lebih awal untuk mempersiapkan bekal untuk suaminya bekerja di sawah pak lurah. Wati dari tadi juga telah siap-siap untuk belajar di rumah bu Ruly. Dengan berjalan menyelusuri pematang sawah, mereka berjalan dengan semangatnya menuju bu Ruly. Sesampai di sana mereka telah di sambut oleh Tutor yang sengaja didatangkan oleh bu Ruly, tentu saja Tutor yang sangat mahir dalam bidangnya.

Hari demi hari tak terasa sudah 3 bulan bu Surti belajar, dengan kegigihannya dia sanggup membordir antara 5 s/d 6 mukena dan jilbab sehari, dan hasilnya bagus. Banyak teman-teman arisan bu Ruly memesan. Akhirnya bu Ruly dengan senang hati memodali bu Surti untuk membuka usaha di bidang bordir. Dengan menggunakan lahan yang ada disamping rumah bu Ruly, mereka mendirikan toko. Atas permintaan bu Surti, dia ingin mengenal jasa bu Ruly yang telah mengangkat tarap hidupnya, dia menamakan toko itu “Bordir Ruly”.

Sampai sekarang setiap orang menuju pantai tempat wisata di daerah mereka itu selalu mampir untuk membeli bordir mereka untuk bahan oleh-oleh, yang sampai sekarang sudah dikenal sampai ke Jakarta. Betapa bahagianya bu Surti atas keja keras yang dia lakukan selama ini.


 

 


(imeldayati)
 
 
Not Rated!
 
Komentar Terkini (1 komentar)
  • indra, Sabtu, 20 September 2008 00:02:10
    Mau dunk di ajarkan teknik bordir komputer. terima kasih


XML