Ekspresi
Jumat, 27 Juli 2007 14:39:27
Dapat apa dari kompas?
Kategori: Umum (1027 kali dibaca)
“Buletin BPPLSP harus lebih bermutu, tidak ada lagi alasan kekurangan artikel.” Ujar seorang teman ketika penulis usai mengikuti magang jurnalistik di harian umum KOMPAS
Ya, sulit menjawabnya ketika ada pertanyaan “Dapat apa dari magang di Kompas?.”Kalau boleh jujur, selama empat hari di sana, kami hanya melihat kesibukan para kuli tinta bekerja keras untuk menyajikan berita yang menarik dan aktual. Melihat cara kerja yang kelihatannya santai, individualis, cuek serba terburu-buru tapi tetap mengedepankan kerjasama yang saling mendukung. Mereka sudah tahu job desk nya masing-masing, ada tukang lay out, ada penyelaras bahasa, ada tukang merekayasa foto dan ada bagian “ngoprak-ngoprak” wartawan agar menulis berita dengan baik.
Kami juga diberitahu bahwa redaktur itu bisa juga nyambi jadi editor sekaligus. Mereka membawahi kepala desk, yaitu penanggung jawab rubrik tertentu.
Ya, di media massa pada umumnya terdiri dari beberapa desk. Ada desk politik dan hukum, desk ekonomi, desk olah raga, desk foto, desk humaniora, desk non berita dan desk opini. Untuk pendidikan (termasuk pendidikan luar sekolah) masuk pada desk humaniora.
Yang jelas, kata Alam, Wakil KOMPAS biro Jawa timur, kerja di bidang jurnalistik itu sangatlah mengedepankan kerjasama, sikap egaliter, mengutamakan kecepatan dan ketepatan, saling menolong, saling mengisi dan memberi masukan atau usulan konstruktif agar menghasilkan sebuah tampilan yang branded sebagai ciri dari Kompas, sebagai upaya untuk menarik pembaca fanatik serta membina dan memelihara pembaca baru. Semua itu dilakukan agar tidak ditinggalkan pelanggannya.
“Kami biasa ramai dalam diskusi untuk menentukan berita yang akan diterbitkan besok hari, saling adu argumentasi untuk mempertahankan ide dan beritanya, tapi setelah itu ya kembali ke urusannya masing-masing ketika keputusan sudah diambil.” Ujar Alam saat bincang-bincang dengan kami sambil menunjukkan cara kerja editor.
Kami dapat apa magang di Kompas ?. Waduh, secara khusus kami tidak diajari bagaimana menulis berita dan lainnya, tapi kami disuruh mengamati sendiri cara kerja mereka yang dinamis berkejaran dengan waktu dan kejelian menjaring berita yang paling aktual sesuai koridor yang ditetapkan oleh manajemen Kompas. Sehingga yang kami dapatkan sangatlah personal sekali sifatnya sesuai dengan kemampuan masing-masing individu dalam menangkap pesan dan menginterpretasikan simbol-simbol yang bertebaran di lantai 3, gedung kompas gramedia, jalan jemur handayani, Surabaya.
Paling tidak, dengan semangat magang di Kompas akan mengilhami dan mendorong kami jajaran redaksi Buletin BPPLSP berbuat lebih baik lagi. Etos kerja awak Kompas yang begitu dinamis, egaliter, saling mengingatkan, bertanggung jawab pada peran yang disandang, santai penuh kekeluargaan serta bekerjasama saling bahu membahu untuk membumikan misi penerbitan, membuat kami kagum.
“Setelah magang harus bisa menulis artikel lebih baik lho !.” Kata seorang teman menggoda penulis.
Ya, memang idealnya, lembaga menugaskan stafnya untuk mengikuti magang (termasuk diklat dan sebangsanya), pastilah harapannya adalah terjadinya peningkatan kinerja dan munculnya karya-karya inovatif versi magang/diklat yang diikuti. Tapi, untuk sementara ini yang terjadi adalah adanya kesalah kaprahan dalam memaknai magang/diklat. Banyak yang beranggapan, termasuk penulis, bahwa diikutkan atau memaksa diikutkan magang/diklat masih diartikan sekedar dapat rejeki tambahan, kredit poin dan bisa rekreasi gratis. NO MORE THAN THAT.
Yang jelas, kalau ditanya magang di Kompas dapat apa ?. Jawabnya, penulis http://frm.jugaguru.com/berkesempatan merasakan nasi bungkus ala wartawan Kompas, serta uang transport yang kali ini jumlahnya di atas Upah Minimun Regional. “Ingat program magang itu di danai oleh uang rakyat.” Waduh, rakyat yang mana ?. Penulis dan pembaca jugaguru.com juga rakyat lho !...
(edi-bpplsp reg. IV)
Ya, sulit menjawabnya ketika ada pertanyaan “Dapat apa dari magang di Kompas?.”Kalau boleh jujur, selama empat hari di sana, kami hanya melihat kesibukan para kuli tinta bekerja keras untuk menyajikan berita yang menarik dan aktual. Melihat cara kerja yang kelihatannya santai, individualis, cuek serba terburu-buru tapi tetap mengedepankan kerjasama yang saling mendukung. Mereka sudah tahu job desk nya masing-masing, ada tukang lay out, ada penyelaras bahasa, ada tukang merekayasa foto dan ada bagian “ngoprak-ngoprak” wartawan agar menulis berita dengan baik.
Kami juga diberitahu bahwa redaktur itu bisa juga nyambi jadi editor sekaligus. Mereka membawahi kepala desk, yaitu penanggung jawab rubrik tertentu.
Ya, di media massa pada umumnya terdiri dari beberapa desk. Ada desk politik dan hukum, desk ekonomi, desk olah raga, desk foto, desk humaniora, desk non berita dan desk opini. Untuk pendidikan (termasuk pendidikan luar sekolah) masuk pada desk humaniora.
Yang jelas, kata Alam, Wakil KOMPAS biro Jawa timur, kerja di bidang jurnalistik itu sangatlah mengedepankan kerjasama, sikap egaliter, mengutamakan kecepatan dan ketepatan, saling menolong, saling mengisi dan memberi masukan atau usulan konstruktif agar menghasilkan sebuah tampilan yang branded sebagai ciri dari Kompas, sebagai upaya untuk menarik pembaca fanatik serta membina dan memelihara pembaca baru. Semua itu dilakukan agar tidak ditinggalkan pelanggannya.
“Kami biasa ramai dalam diskusi untuk menentukan berita yang akan diterbitkan besok hari, saling adu argumentasi untuk mempertahankan ide dan beritanya, tapi setelah itu ya kembali ke urusannya masing-masing ketika keputusan sudah diambil.” Ujar Alam saat bincang-bincang dengan kami sambil menunjukkan cara kerja editor.
Kami dapat apa magang di Kompas ?. Waduh, secara khusus kami tidak diajari bagaimana menulis berita dan lainnya, tapi kami disuruh mengamati sendiri cara kerja mereka yang dinamis berkejaran dengan waktu dan kejelian menjaring berita yang paling aktual sesuai koridor yang ditetapkan oleh manajemen Kompas. Sehingga yang kami dapatkan sangatlah personal sekali sifatnya sesuai dengan kemampuan masing-masing individu dalam menangkap pesan dan menginterpretasikan simbol-simbol yang bertebaran di lantai 3, gedung kompas gramedia, jalan jemur handayani, Surabaya.
Paling tidak, dengan semangat magang di Kompas akan mengilhami dan mendorong kami jajaran redaksi Buletin BPPLSP berbuat lebih baik lagi. Etos kerja awak Kompas yang begitu dinamis, egaliter, saling mengingatkan, bertanggung jawab pada peran yang disandang, santai penuh kekeluargaan serta bekerjasama saling bahu membahu untuk membumikan misi penerbitan, membuat kami kagum.
“Setelah magang harus bisa menulis artikel lebih baik lho !.” Kata seorang teman menggoda penulis.
Ya, memang idealnya, lembaga menugaskan stafnya untuk mengikuti magang (termasuk diklat dan sebangsanya), pastilah harapannya adalah terjadinya peningkatan kinerja dan munculnya karya-karya inovatif versi magang/diklat yang diikuti. Tapi, untuk sementara ini yang terjadi adalah adanya kesalah kaprahan dalam memaknai magang/diklat. Banyak yang beranggapan, termasuk penulis, bahwa diikutkan atau memaksa diikutkan magang/diklat masih diartikan sekedar dapat rejeki tambahan, kredit poin dan bisa rekreasi gratis. NO MORE THAN THAT.
Yang jelas, kalau ditanya magang di Kompas dapat apa ?. Jawabnya, penulis http://frm.jugaguru.com/berkesempatan merasakan nasi bungkus ala wartawan Kompas, serta uang transport yang kali ini jumlahnya di atas Upah Minimun Regional. “Ingat program magang itu di danai oleh uang rakyat.” Waduh, rakyat yang mana ?. Penulis dan pembaca jugaguru.com juga rakyat lho !...
(edi-bpplsp reg. IV)
Komentar Terkini (3 komentar)
- linda, Kamis, 12 Juni 2008 11:11:20
tolong kirimkan struktur organisasi kompas surabaya ke email saya buat ngurus ujian skripsi say... - sujatno, Sabtu, 05 Januari 2008 12:45:32
kompas tolong minta skema struktur organisasi kompas dong - Muhammad Guntur, Rabu, 21 November 2007 12:23:40
Salam persahabatan. menurut saya surat kabar kompas bagus, beritanya tidak berlebihan sehingga p...









