| DATA TINGKAT PENDIDIKAN PENILIK INDONESIA | ||||||||||||
| NOVEMBER 2008 | ||||||||||||
| NO | PROVINSI | JUMLAH | PENDIDIKAN | KETERANGAN | ||||||||
| PENILIK | SLTA | D1 | D2 | D3 | S1 | S2 | S3 | |||||
| 1 | DKI Jakarta | 38 | 8 | 0 | 1 | 1 | 25 | 3 | 0 | |||
| 2 | Banten | 212 | 6 | 0 | 32 | 3 | 132 | 38 | 1 | |||
| 3 | Jawa Barat | 1676 | 199 | 0 | 0 | 413 | 979 | 85 | 0 | |||
| 4 | Jawa Tengah | 1132 | 201 | 0 | 183 | 35 | 693 | 20 | 0 | |||
| 5 | Jawa Timur | 1183 | 155 | 0 | 53 | 60 | 854 | 61 | 0 | |||
| 6 | DIY | 78 | 15 | 1 | 3 | 1 | 56 | 2 | 0 | |||
| 7 | NAD | 83 | 42 | 1 | 9 | 0 | 29 | 2 | 0 | |||
| 8 | Sumatra Utara | 497 | 108 | 20 | 77 | 64 | 228 | 0 | 0 | |||
| 9 | Sumatra Barat | 159 | 64 | 4 | 21 | 10 | 59 | 1 | 0 | |||
| 10 | Sumatra Selatan | 235 | 74 | 0 | 56 | 8 | 97 | 0 | 0 | |||
| 11 | Lampung | 125 | 35 | 1 | 39 | 2 | 48 | 0 | 0 | |||
| 12 | Jambi | 196 | 23 | 2 | 76 | 6 | 89 | 0 | 0 | |||
| 13 | Riau | 39 | 14 | 0 | 7 | 0 | 18 | 0 | 0 | |||
| 14 | Kalimantan Barat | 269 | 113 | 0 | 127 | 7 | 22 | 0 | 0 | |||
| 15 | Kalimantan Selatan | 155 | 14 | 6 | 41 | 9 | 79 | 6 | 0 | |||
| 16 | Sulawesi Selatan | 348 | 33 | 0 | 33 | 12 | 265 | 5 | 0 | |||
| 17 | Gorontalo | 68 | 14 | 0 | 0 | 20 | 33 | 1 | 0 | |||
| 18 | Nusa Tenggara Timur | 141 | 101 | 1 | 9 | 6 | 24 | 0 | 0 | |||
| 19 | Nusa Tenggara Barat | 125 | 15 | 11 | 23 | 10 | 65 | 1 | 0 | |||
| Jumlah | 6759 | 1234 | 47 | 790 | 667 | 3795 | 225 | 1 | ||||
| PENGURUS PUSAT | ||||||||||||
| IKATAN PENILIK INDONESIA | ||||||||||||
| | |||||||||||
Minggu, 2008 November 30
Sabtu, 2008 November 29
HASIL EVALUASI KONTEKS PADA PENYELENGGARAAN PROGRAM PAKET C SETARA SMA DI JAKARTA TIMUR TAHUN 2007
Arif Nasdianto
Penilik Jakarta Timur
1.
Upaya yang dilakukan dari hasil evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan yang diatur perioritasnya, agar dapat menjawab pertanyaan “ Apakah tujuan Paket C setara SMA yang ingin dicapai, telah dirumuskan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu dalam evaluasi konteks terhadap program paket C di wilayah Jakarta Timur, kebutuhan masyarakat /warga belajar dalam mengikuti program antara lain ;
Tabel. 5. Data tentang Prioritas Kebutuhan Warga Belajar dalam mengikuti Program Paket C setara SMA
| | Kebutuhan | f | % |
| 1. 2. 3. 4. 5 6. | Dapat bekerja/usaha mandiri setelah mendapt ijazah Melanjutkan Perguruan Tinggi Dapat teman Baru Mengikuti teman Alasan lain | 43 46 7 2 2 0 | 43 46 7 2 2 0 |
Melihat data di atas, maka warga belajar yang mengikuti program Paket C setara SMA terdapat 43 % beralasan memiliki kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan setara dengan SMA, 46 % untuk dapat bekerja atau dapat usaha mandiri, 7% memilik kebutuhan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan masing –masing mendapatkan 2% hanya ingin mendapatkan teman baru dan ikut teman, 0% menunjukan bahwa warga belajar tidak punya alasan lain untuk mengikuti program paket C .
Data di atas menginformasikan bahwa program paket C setara SMA dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta Timur perioritas pertama adalah untuk modal mencari pekerjaan atau usaha mandiri, perioritas kedua mendapatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan setara SMA, perioritas ketiga melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dari tiga prioritas kebutuhan ini menunjukan bahwa program paket C setara SMA di Jakarta Timur tahun 2007 ada kesesuaian dengan tujuan Program Paket C sebagai Program Pendidikan Kesetaraan. Pernyataan tersebut, menandakan bahwa tujuan Program Paket C setara SMA di Jakarta Timur berjalan dengan baik.
2. Kondisi Lingkungan/Sosial
| o | Kebutuhan | f | % |
| 1. 2. 3. 4. 5 6. | Keadaan Orang Tua tidak mampu menyekolahkan Usia tidak memungkinkan sekolah di formal Waktu tidak memungkinkan karena bekerja Alasan lain | 39 37 6 8 10 0 | 39 37 6 8 10 0 |
Kondisi sosial dan lingkungan warga masyarakat, ternyata yang menjadikan Program Paket C setara SMA di Jakarta Timur tahun 2007 sangat diminati, hal ini menunjukan bahwa Program Paket C di Jakarta Timur, sesuai dengan tujuan, fungsi dan sasaran Program Pendidikan Kesetaraan (Program Paket C setara SMA).
Selasa, 2008 November 25
UNDANGAN RAPAT PLENO PENGURUS PUSAT IPI
Nomor : 192/PP/11/2008
Lamp : -
H a l : Rapat Pengurus Pusat IPI
Kepada
Yth .Pengurus IPI Pusat
di mana Saudara Berada
Dengan Hormat, dalam rangka konsolidasi pengurus pusat Ikatan Penilik Indonesia ( IPI ), kami mengundang Bapak / Ibu untuk dapat hadir pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 2 Desember 2008
Tempat : Aula Anjungan Lampung TMII Jakarta Timur
Telp. 021 87780165
W a k t u : 09.00 s/d 15:00 WIB.
Acara : Rapat Pleno Pengurus Pusat
Demikian undangan ini kami sampaikan. Mohon hadir tepat waktu.Atas kehadirannya kami ucapkan terima kasih
N.B.
1. Biaya mandiri Panitia hanya menyedikan konsumsi
2. Bagi yang membutuhkan penginapan hubungi : 021-87780165 pesanggrahan anjungan Lampung
3. Emotion call to comitee: 081314461308 (Arif), 0817138253(Temi)
Nama-nama di bawah ini adalah pengurus pusat Ikatan Penilik Indonesia, harapan kami agar yang membaca segera menyampaikan kepada nama di bawah iniKetua Umum : Drs. Endro Harjanto, M.Pd, Kab. Klaten Jateng
Ketua I : Suparno, S.Pd, M.Si, Kab. Batang Jateng
Ketua II : Eddy Rusianto, S.Pd,
Ketua III : Franky W. Supit, S.Sos,
Ketua IV : Drs. Madroji, Kab. Serang Banten
Ketua V : M. Saman, S.Pd Kab. Soralangun Jambi
Wakil Sekjen I : Drs. Yusef Mulyadi Yusuf, Kab. Bandung Jabar
Wakil Sekjen II : Subarjito, S.Pd, Kab. Bandar Lampung
Bendahara : Dra. Hj. Sukowati, Kab. Bandung Jabar
Wakil Bendahara : Dra. Hartati Sijabat, Kab. Badung Jabar
Sekretaris Bidang :
1. Organisasi dan
Kaderisasi : 1. H. Jaja Jafar, S.Pd, Kab Garut, Jabar
2. Abdul Haris L. S.Sos, Kab. Serang Banten
2. Penggalian Dana : 1.
2. Zulkifli Zein,
3. Perlindungan Hukum : 1. Djony, S.Pd, Kab. Deli Serdang Sumut
2. Suharman, SH. Kab. Lombok Barat NTB
4. Penerangan, Komuni
Kasi dan Kerjasama : 1. Achmad Cumedi, S.Sos, MM Jakpus DKI
2. Muh. Arif, SE. Kalbar
5. Penelitian dan
Pengembangan
Profesi : 1. Drs. Darsiyanto, M.Pd Kab. Kendal Jateng
2. Erwandi, S.Pd, Kab. Bangka
6. Pendidikan dan
Pelatihan : 1. Drs. Dadang Sudaryo, Kab.
2. Chaerul Mumin, S.Pd Kab. Indramayu
7. PAUD : 1. Nurmansyah, S.Pd, MM Bandar Lampung
2. Drs. Taufik, Kab. Limapuluh Kota Sumbar
1. Kesetaraan : 1.
2. Darwis Ismail, S.Pd, Kab.
2. Keaksaraan : 1.
2. Eter S Umar,
3. Kursus dan
Kelembagaan : 1. Nursin, S.Sos, Jakarta Barat DKI
2. Asmu Mulyadi, S.Sos Kota Palu Sulteng
4. Kepemudaan dan
Olah Raga : 1. Muhtar Yatib, S.Pd,
2. M. Yunus, Kab. Kalang Banjar Jambi
5. Pemberdayaan dan
Kesetaraan Gender : 1. Dra. Niken Widagdorini, M.H
2. Dra. Fien M Rantuwene, Kota Manado Sulut
6. Kesejahteraan
Anggota : 1. Mustafa, S.Ag, Kab.
2. MM Yuniati, S.Pd, Kab. Gunung Kidul DIY
7. Sarana dan Pra
Sarana PNF : 1.
2. Nursobhi, SIP Kab. Pasuruan Jatim
Kordinator Wilayah :
Korwil Sumatra : Drs. Bunyamin Sumatra Selatan
Korwil Jawa, Bali, NTT, NTB : Sugito, S.Pd Daerah Istimewa
Korwil Kalimantan : Mardiansyah, S.Pd
Korwil Sulawesi : Drs. Moch. Afdal Sulawesi Selatan
Korwil Maluku, Papua/Irian : Wahab Slamet Maluku
Nama-nama yang tercantum di bawah ini agar segera menghubungi panitia!! (Arif)
Sabtu, 2008 November 22
PENTINGNYA TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI PENILIK DALAM CYBER ERA
H.A.R. Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi, dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020, Gramedia, Jakarta, 1997
Ikatan Penilik Indonesia Pengurus Pusat
PENDAHULUAN
Penilik kini mulai mengikuti era informasi. Apakah makna era informasi bagi kehidupan kerja seorang penilik? Era informasi yang didukung oleh revolusi teknologi informasi telah mengubah budaya Penilik menjadi paham dan cermat informasi artinya tidak GATEK DAN TELMI lagi.
Teknologi informasi yang telah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan Penilik. Kini menjadi popular apa yang disebut e-life. E-life (Electronic Life) telah merupakan suatu
E-life secara pelan tapi pasti juga memasuki dunia perbukuan. E-life telah melahirkan e-book sebagaimana yang dipopulerkan di dalam pameran buku internasional ke-52 di Frankfrut dalam bulan Oktober 2000. di dalam pameran buku yang terkenal itu mulai dipopulerkan masyarakat e-book. Lahirlah berbagai bentuk kebudayaan untuk menyimpan dan mentransmisikan informasi.
Membicarakan dunia perbukuan sekurang-kurangnya meliputi tiga hal, yaitu adanya penulis yang berkarya melahirkan buku-buku, adanya pembaca yang memanfaatkan hasil karya penulis, dan akhirnya kehidupan industri perbukuan.di dalam era informasi atau di dalam era masyarakat digital, ketiga unsure perbukuan tersebut di pengaruhi oleh kemajuan teknologi.informasi. E-life yang memasuki dunia perbukuan sangat dipengaruhi dengan adanya perangkat keras yaitu processor yang semakin kecil sehingga sangat membantu di dalam kemudahan penggunaanya., perangkat lunak yang semakin canggih, dan teknologi komunikasi yang semakin murah. Keuntungan-keuntungan tersebut tentunya akan mengubah cara-cara penulisan buku, cara-cara membaca, dan proses memperoleh informasi, serta mengubah industri perbukuan dari bentuknya yang tradisional memasuki industri buku di dalam era cyber dengan budaya digitalnya.
A. ELEGIGUTENBERG ATAU ELEGI BIRKERTS?
Johann Gutenberg dianggap sebagai bapak penemu teknologi mencetak dengan huruf lepas. Pada tahun 1442 karya cetaknya telah ditemukan berupa sehelai kertas bertuliskan 11 baris huruf cetak. Kebudayaan umat manusia karenanya mengalami revolusi yang sngat menentukan di dalam pengembangan dan perluasan informasi kepada rakyat banyak. Dapat kita gambarkan betapa bentuk kebudayaan manusia tanpa penemuan Gutenberg. Teknologi percetakan huruf lepas tersebut terus-menerus berkembang dan tersebar di seluruh dunia. Pada tanggal 29 November 1814 harian the times di London untuk pertama kali dicetak dengan menggunakan mesin cetak uap. Dan teknologi percetakan terus mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga pada tahun 1982 the times menjadi surat kabar Inggris pertama yang secara keseluruhan diset dengan metode fotografi.
Revolusi terhadap duia percetakan tentunya memberikan kengann yang indah bagi umat manusia, kini dengan kemajuan teknologi yang pesat, teknologi digital, maka penemuan Johann Gutenberg seakan-akan hilang dan terlupakan. Tidak mengherankan seorang kutu buku bernama Sven Birkerts telah menulis buku yang sangat melankolis berjudul Elegi Gutenberg. Bikerts meratapi penemuan besar Gutenberg yang mengubah lifestyle umat manusia kini menuju kepada kematiannya. Bikert memang patut pesimis. Dia hidup di dalam suatu kebudayaan serba “alon-alon asl kelakon”. Dia menangisi akan lahirnya kebudayaan pop yang serba cepat dan segera berlalu sehingga kekurangan waktu untuk menghayati dan menikmati hasil-hasil karya tulis di dalam membaca.
Ratapan Bikerts tidak sepenuhnya disetujui oleh Putut Wijanarko menunjukan adanya dua teritori yang kedua yang disebut teritori “syber space” yang melihat kepada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas dari kemajuan teknologi informasi. Memang masih diragukan efektivitas darisarana baru terhadap intensitas baca dan menikmati hasil-hasilsastra. Namun demikian, gelombang perubahan teknologi informasi tidak dapat dibendung oleh siapa saja.
Dewasa ini Penilik mulai mengenal revolusi di dalam penyebaran informasi bacaan melalui amazon.com, press on Demand (POD), dan berbagai teknologi informasi lainnya seperti took buku on-line dan e-matter.rupa-rupanya Guternberg tidak perlu sedih hati oleh sebab betapa pun perubahan yang terjadidi dalam teknologi penyebaran informasi, tetap saja hasilkarya tulisan dengan cepat dan lebih murah kini direalisasikan seluas-luasnya tanpa batas untuk umat manusia. Memang kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat telah menghilangkan berbagai jenis pekerjaan yang telah dilahirkan oleh penemuan peralatan cetak sejak Guternberg.
B. LAHIRNYA GENERASI BARU: THENET-GENERATION
Perubahan teknologi informasi telah mempengaruhi pengadaan, penyebaran dan penyajian data-data informasi dan pengetahuan serta sastra. Telah lahir duniamaya dengan informasi yang tanpabatas dan secara bertahap akanmudah dikuasai oleh umat manusia. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, menurut pengamatan Don Tapscott telah lahir suatu generasi baru yang disebut the net-generation atau ”N-Gen”.
The net-generation, atau generasi internet adalah generasi baru yang muncul pada dua decade terakhir abad 20. generasi ini hidup dengan dunia digital atau computer, hidup di dalam samudra informasi yang dapat di akses di mana saja dan kapan saja. Ditompang oleh perangkat-perangkat lunak computer yang semakin canggih serta biaya komunikasi yang semakin murah, maka arus informasi akan semakin dapat di jangkau oleh semua orang.revolusi ini tentunya menuntut cara-cara baru dalam penguasaan ilmu pengetahuan, informasi, dan hasil karya sastra. Tentunya banyak cara dalam metodologi, apresiasi serta penulisan informasi yang dikenal selama ini akan di ubah. Inilah budaya baru yang dilahirkan oleh kemajuan teknologi informasi.
Bagaimana impact dari teknologi baru ini terhadap proses belajar dari net generation? Don Tapscott menyatakan sebagai berikut.
At the heart of N-Gen culture is interactivity. Children today increasingly are participatiants not viewers. They are incited to discourse.
Pengamatan Don Tapscott ini mengandung tiga unsure proses belajar yang asing di dalam budaya lama, yaitu : interaktif, partisipasi, dan diskursus. Budaya interaktif memerlukan suatu proses belajar-mengajar yang baru, oleh karena peserta yang belajar atau pembelajaran bukan bersifat pasif tetapiaktif. Si pembelajar berinteraksi dengan sesame, dengan para pakar baik secara langsung maupun melalui kerya-karya dengan menggunakan perangkat internet. Di dalam proses interaktif tersebut maka si pembelajar adalah seseorang partisipasian dan bukan seorang boneka yang sekedar hanyamenerimasegalasesuatu yang dituangkan kedalamnya, seperti system bank menurut Paulo Freire. Demikian pula di dalam proses interaktif tersebut, si pembelajar bukanlah pasif tetapi secaraaktif mengadakan diskursus mengenai segala hal yang ditemukan di dalam pengembaraanya dalam dunia maya tanpa batas.
Proses pembelajaran tentu meminta sosok seseorang teman mitra belajar dan sarana belajar yang berbeda. Sarana belajar tidak terbatas di dalam kelas, “school without walls”, juga tidak tergantung pada seorang guru karena guru sekedar hanya sebagai fasilitator, juga tidak terbatas pada buku-buku teks, atau buku-buku perpustakaan, karena informasi dapat diketahui dan di analisis dari berbagai sumber. Yang diperlukandi sini ialah kemampuan daya analisis. Proses pembelajaran ini berkembang sangat pesat. Sebelum perkembangan televisi maka yang dipentingkan ialah pertemuan tatap muka. Dengan adanya televise si pembelajar menjadi pemirsa.(viewer), dan ditemukannya net sebgai server makasi pembelajar menjadi penegmbara (roamer).
Mengenai budaya baru N-Gen, yang tentunya mempengaruhi dunia perbukuan, kita ambil hasil pengamatan Don Tapscott sebagai berikut. N-Generation cenderung untuk berfikir bebas, mempunyai keterbukaan emosional dan intelektual,serta memiliki budaya inklusivisme. Selanjutnya, generasi ini mempunyai kebebasan untuk menyatakan sesuatu, mempunyai kebudayaan untuk berinovasi, sertasesuatu sikap kematangan karena tidak terikat kepada doktri-doktrin tertentu. Mereka mempunyai budaya untuk menyelidiki dan tidak puas terhadapsesuatu penemuan. Oleh karena informasi terus bertambah, diperkaya, dan berubah maka generasi ini adalah generasi yang percaya kepada kekinian. Mereka tidak cepat percaya terhadap propaganda-propaganda gombal tanpa alas an-alasan yang rasional, dan oleh sebab itu pula mereka cenderung untuk membangun suatu bangsa yang otentik. Tentunya semua sikap ini mengubah proses pembelajaran dai N-Gen.
Ada sesuatu yang menarik dalam revolusi belajar semacam ini. Duncan Grey mengatakan bahwa diperlukan suatu generasi guru untuk mengedopsi dan beradaptasi dengan proses pembelajaran yang baru itu. Hal ini perlu mendapatkan perhatian kita. Di dalam suatu konferensi internasional disponsori oleh PBB dan UNESCO bulan juli 2000, dibicarakan mengenai adanya digital divide antara Negara industri dan Negara-negara berkembang. Gap iniakan semakin lama semakin besar apabila tidak diambil langkah-langkah dari dunia berkembang maupun dari dunia industri untuk membantu mengatasinya. Sementara itudunia berkembang perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar di dalam teknologi informasi dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita konferensiYom Tien 1990, “Education for All”,yang mengalami berbagai kendala termasuk keterbatasan biaya serta keterbatasan teknologi.
C. MANAJEMEN PENULISAN BUKU DALAM ERA-MAYA
Mengenai penulis, berkenaan dengan adanya motivasi penulis, oleh karena si penulis dapat memperoleh kepuasan serta penghargaan masyarakat yang setimpal.keseluruhan unsure-unsur tersebut merupakan manajemen penulisan buku yang kita kenal secara tradisional. Tentunya masih banyak pula unsur-unsur yang mempengaruhi perkembangan dunia perbukuan, antara lain adanya politik pengadaan pembukkuan yang kondusif, perkembangan cinta dan minat baca, sertaapresiasi masyarakat untuk memanfaatkan buku bagi perkembangan pribadi serta penguasaan pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam era teknologi informasi yang maju pesat tentunya manajemen penulisan atau pengadaan buku di dalam masyarakat tidak lagi dapat mempertahankan unsure-unsur tradisional seperti diatas. Baik penulisan, isi, dan pemasaran dari buku-buku tersebut akan berubah seperti yang telah dikemukakan. Perubahan-perubahan tersebut menuntut suatu jenis manajemen baru yang sesuai dengan era teknologi informasi yang serba cepat, akurat, kekinian, terbuka, dan murah.
Bagaimanakah dengan keadaan kita di Indonesia? Meskipun Indonesi termasuk salah satu Negara yang sangat kurang produktif di dalam pengadaan buku, namun demikian kita sudah harus mengambil ancang-ancang untuk menghadapi perubahan teknologi informasi yang akanmempengaruhio industri pengadaan, pemanfaatan dan distribusi. Mungkin masih banyak orang yang ragu mengenai kemampuan teknologi kita, namun hal tersebut tidak mengurangi tekad kita untuk mulai mengadakan persiapan-persiapan menghadapi kenyataan yang sudah berada di depan mata kita.
Pertama-tama perlu kita berikan prioritas ialah pengadaan buku-buku pelajaran dan buku-buku universitas. Menurut pendapat para pakar, di Negara-negara berkembang pengadaan buku teks dan buku universitas masih sangat penting dan diperlukan tanggung jawab pemerintah. Di Amerika sendiri yang terkenaldemikian maju industri perbukuannya, pengadaan buku-buku teks dan buku-buku universitas masih merupakan seperempat dari total industri perbukuannya. Pengadaan buku teks dan buku-buku universitas memerlukan para penulis yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan tuntunan era teknologi informasi dan budaya N-Gen. mengenai buku-buku universitas masih akan terus berlaku tuntutan (Publish on perish). Apabila pendidikan tinggi Indonesia ingin meningkatkan mutu kualitasnya yang masih serba rendah maka perlu digalakkan penulisan buku-buku universitas yang bermutu tinggi. Selain dari pada itu, dalam rangka membangun researchuniversity di Indonesia menuntut berbagai jenis penelitian yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan tinggi kita serba publikasi dari hasil penelitiannya.
Penulisan buku untuk universitas sekarang dipermudah dengan tersedianya informasi-informasi yang diperlukan oleh para penulis, misalnya penerbit McGraw-Hill menyediakan data-base intellectual bagi para professor yang ingin menulis buku-bukunya. Perlu kita ingat lagi bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa yang akan dating, karenasikap dan fasilitas yang tersedia, memungkinkan mereka menuntut buku-buku teks yang bukan hanya up-todate tetapi yang membuka cakrawala yang lebih luas baginya..Aksesbilitas informasi yang tak terbatas menuntut penulisan buku-buku universitas yang berkualitas tinggi.
D. HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Demikianlah telah diutarakan mengenai revolusi eksistensi buku di dalam era-maya dewasa ini. Pertanyaan yang muncul di dalam benak kita ialah apa yang perlu dan harus kitaperbuat? Di tengah-tengah arus globalisasi dewasa ini kita tidak dapat mengabaikan begitu saja perubahan yang terjadi di sekitar kita apabila kita tidak mau ketinggalan di dalam kehidupan globalyang terbuka. Langkah-langkah konkret mesti diambil sekarang juga. Berdasarkan pengamatan kemajuan teknologi informasi dan lahirnya budaya N-Gen maka langkah-langkah berikut ini perludilaksanakan.
Menghadapi perubahan yang besar tersebut maka perlu diadakan suatu loncatan kuantum (quantum leap) dalam perbukuan kita, yaitu dari keadaan tradisional menuju kepada pengadaan buku sesuai dengan tuntutan dunia maya. Langkah-langkah tersebut antara lain adanya kemauan politik pemerintah untukmenciptakan iklim yang kondusif untuk lahirnya industri perbukuan. Industri perbukuan terutama di Negara berkembang, belum menarik bagi para investor. Hal ini melahirkan suatu lingkaran setan yang mematikan dunia perbukuan di Indonesia. Oleh sebab itu diperlukan suatu intervensi pemerintah untuk melahirkan dan mengembangkan suatu dunia perbukuan yang menarik. Dewan Buku Nasional yang kuat sebagai pengganti Badan Pengembangan Perbukuan Nasional (BPPN) sudah perlu di lahirkan.
Selain dari pada itu gerakan buku murah perlu digalakkan. Bahwa ada penelitian yang menyatakan minat baca tidak tergantung kepada harga buku perlu diragukan. Tidak ada suatu Negara di dunia di mana masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi tetapi tidak disokong oleh harga buku yang dapat terjangkau. Dengan meningkatnya minat baca maka apresiasi buku dapat digalakkan baik itu buku sastra, ilmu pengetahuan popular, buku ilmiah, ataupun bacaan untuk masa.
2. Persiapan Pengadaan Buku Cyber (E-Book)
Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi di dalam pengadaan buku, maka penguasaan terhadap teknologi tersebut sudah harus dimulai, industri buku Indonesia sudah perlu mengambil ancang-ancang untuk penerapan teknologi pengadaan buku Cyber. sejalan dengan itu persiapan bagi para penulis e-book sudah harus dimulai agar supaya para penulis tersebut telah siap dan memperoleh stimulasi untuk menulis buku-buku yang sesuai. Demikian pula pemasyarakatan buku-buku cyber (e-book), baik di dalam pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak agar supaya semakin lama semakin terjangkau oleh daya beli masyarakat. Hal ini sudah diterapkan oleh Depdiknas dalam sekolah maya.
3. Penilik yang Terampil
Penggunaan e-book mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah atau SKB / PKBM dalam penyediaan buku-buku cyber tersebut. Di dalam pelaksanaan program tersebut yang menjadi kunci adalah Tutor yang terampil. Seperti yang dikemukakan oleh pakar pendidikan internet di sekolah, Duncan Grey, para guru dewasa ini kebanyakan buta di dalam penguasaan teknologi informasi yang diperlukan. Apakah sama dengan peniliknya Oleh sebab itu, sudah harus dimulai pesiapan Tutor, Pamong Belajar, Penilik sebagai generasi baru yang menguasai pemanfatan teknologi informasi di dalam proses pembelajaran.
Senin, 2008 November 10
PELANTIKAN IPI CABANG KAB SITUBONDO JAWA TIMUR
Pengangkatan terhadap sejumlah Penilik Indonesia Cabang Situbondo tersebut diharapkan kedepan lembaga ini bisa lebih maksimal dalam melakukan monitoring terhadap pendidikan Kabupaten Situbondo, khususnya untuk Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di Kabupaten Situbondo. Seperti disampaikan Ketua Umum IPI Propinsi Jawa Timur, Arip Puji, E.Sos mengatakan bahwa pihaknya akan membekali semua penilik untuk dapat lebih aktif menjalakan tugas sebagai penilik kegiatan luar sekolah seperti PAUD dan Kegiatan Keaksaraan Fungsional (KF).
Sementara dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Situbondo, Drs. Fathorahman mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung dengan pengangkatan IPI Cabang Situbondo, selain itu dengan dibentuknya IPI tersebut pelaksanaan dan kegiatan PLS di Kabupaten Situbondo dapat berjalan sesuai harapan Pemerintah. Lebih jauh Fathorahman mengatakan, mengacu pada PP Nomor 41 Tahun 2004 yang mengatur terhadap struktur dan tata organisasi diharapkan untuk mempermudah rencana Kantor Pendidikan Nasional Kabupaten Situbondo akan menambah satu unit kerja yakni Kasi PAUD. Untuk sementara ini jumlah penilik kegiatan program PLS di masing – masing wilayah kecamatan akan dipersiapkan masing – masing sebanyak 3 personil dan untuk kepengurusan IPI Cabang Situbondo Tahun 2008 – 2013 dipercayakan kepada Drs. M. Zaini dari Kecamatan Bungatan.
| Date: | 2008-11-06 06:26:58 |
| Name: | Situ Bondo |
| Web: | http://situbondo.go.id/pemda/ |
Rabu, 2008 Oktober 22
RESUME : QUALITY IMPROVEMENT PROGRAM FOR NON-FORMAL EDUCATION TEACHERS AND EDUCATION PERSONNEL
Quality improvement program for non-formal education teachers and education personnel is intended to improve the quantity and the quality(qualification and competence) of NFTEP to support the existence of qualified non-formal education program and relevant to the needs of the community. So that, it needs strategic non-formal education program and activities to achieve the five year target.
The focus of the NFETEP quality improvement program covers six strategic programs, namely:(1) Planning and strategy of Fulfiling the Needs For NFETEP, (2) Improving the quality of non-formal education teachers, (3) Improving the quality of non-formal education presonnel, (4) Providing rewards, welfare, and protection For NFETEP, (5) Developing professsional organization of NFETEP, and (6) Improving the quality of NFETEP service. (Arif Nasdianto Penilik DKI Jakarta, Indonesia)
DIKLAT PEMBUATAN WEBLOG IPI PROVINSI SE-INDONESIA
Pelatihan pembuatan weblog organisasi Ikatan Penilik Indonesia (IPI) yang diprakarsasi oleh pengurus pusat IPI dan telah diselenggarakan di P4TK Bahasa DKI Jakarta pada tanggal 9 s.d. 13 September 2008. Peserta terdiri dari 20 pengurus IPI Provinsi, 2 peserta utusan dari pengurus Pusat IPI. Kegiatan ini diresmikan oleh Direktur PTKPNF Dirjen PMPTK Depdiknas RI Bapak Erman
Adapun Narasumber Teknis dibawakan oleh Ketua Forum IT Bapak Kosasih , M.Kom dan Tenaga IT dari Pengurus Pusat IPI yakni Drs. Arif Nasdianto,. Materi yang diberikan kepada peserta adalah praktek langsung pembuatan Acount email dan pembuatan weblog dengan situs blogspot.com.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pendidikan para Tenaga Kependidikan Nonformal khususnya para penilik, dengan terselenggaranya pelatihan ini maka akan terbina 22 penilik sebagai master trainer bidang pembuatan weblog yang pada gilirannya dapat ditularkan kembali di daerahnya masing-masing.
Diklat ini ditutup secara resmi oleh ketua umum Ikatan Penilik Indonesia Drs. Endro Harjanto, M.Pd pada tanggal 13 september 2008 yang didampingi olehKetua IV Drs. Madroji dan Plt. Sekjen IPI Pusat Drs. Arif Nasdianto
Senin, 2008 Oktober 20
Training Program for NFE Facilitator
Trainer/Technical Staff
Center for Development of Learning Activity(BPKB) Jayagiri, Lembang Bandung
Indonesia

