Jejak Info
Rabu, 22 Oktober 2008 10:08:57
Halal bi halal idul fitri 1429H
Seluruh staf lingkungan Ditjen PMPTK
Kategori: Liputan Khusus (202 kali dibaca)
Kemarin (20/10) bertempat di ruang auditorium Ditjen Dikti seluruh staf di lingkungan Direktorat Jenderal PMPTK menghadiri acara halal bi halal idul fitri 1429H.
Acara ini selain dihadiri oleh para staf, hadir pula para pejabat di lingkungan Ditjen PMPTK termasuk DR. Baedhowi, Dirjen PMPTK. Acara dimulai pukul 9 pagi WIB dibuka oleh pembacaan ayat suci Al Qur'an, kemudian dilanjutkan oleh sambutan Dirjen PMPTK.
"saya mohon maaf atas pengunduran jadwal acara halal bi halal yang seharusnya dilaksanakan pada minggu kemarin (15/10). Undurnya acara ini dikarenakan ada undangan dari DPR sehingga acara ini baru bisa dilaksanakan hari ini (21/10)". ujar DR. Baedhowi
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan taushiyah dari Ust. Qasim Shaleh Lc, MA tentang memaafkan cermin kebesaran jiwa.
Allah berfirman dalam surat Al Imran 134 yang artinya 'orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang Muhsinin (berbuat kebajikan)
"Kemajuan suatu bangsa tergantung sejauh mana warga negara dapat mengapresiasi serta mengakses beragam ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu sesseorang semakin tinggi derajat, semakin halus budi dan semakin besar jiwanya. Salah satu indikator orang berilmu dan memiliki kesantunan dan jiwa besar ialah mengakui kesalahan individu sekaligus memaafkan kesalahan orang lain."
Ust. Qasim Shaleh juga menyampaikan bahwa bulan syawal merupakan bagian dari bulan reparasi diri dan pembersihan jiwa. Dalam tingkah laku keseharian dan kondisi tertentu, ada sikap, perilaku dan kadang ucapan yang terselip menyinggung dan menggores perasaan teman, sahabat dan orang lain. Hal ini berjalan di luar kesadaran dan pengendalian diri kita. Sebagai salah seorang individu muslim, meminta maaf dan memaafkan merupakan cermin dari keutuhan suatu komunitas dan representasi dari kualitas seorang muhsinin (orang yang bijak).
"Ketauladanan seorang pemimpin dapat tercermin dari perilaku keseharian dan sinkronisasi antara ucapan dan perbuatan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW diutus ditengah ummatnya dengan latar biodata seorang ummie (buta aksara) namun peka akan keadaan dan kondisi lingkungan dan ummatnya. Kondisi inilah yang diharapkan oleh Islam untuk menjadi bagian dan perangai keseharian kita."
Dalam akhir ceramahnya, Ust. Qasim berpesan agar dalam kesempatan dapat meneladani kepribadian Rasulullah dengan berjiwa besar meminta maaf dan berlapang dada menerima permintaan maaf pada orang lain.
Kemudian acara ditutup dengan do'a dan ramah-tamah.
(ika)
Acara ini selain dihadiri oleh para staf, hadir pula para pejabat di lingkungan Ditjen PMPTK termasuk DR. Baedhowi, Dirjen PMPTK. Acara dimulai pukul 9 pagi WIB dibuka oleh pembacaan ayat suci Al Qur'an, kemudian dilanjutkan oleh sambutan Dirjen PMPTK.
"saya mohon maaf atas pengunduran jadwal acara halal bi halal yang seharusnya dilaksanakan pada minggu kemarin (15/10). Undurnya acara ini dikarenakan ada undangan dari DPR sehingga acara ini baru bisa dilaksanakan hari ini (21/10)". ujar DR. Baedhowi
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan taushiyah dari Ust. Qasim Shaleh Lc, MA tentang memaafkan cermin kebesaran jiwa.
Allah berfirman dalam surat Al Imran 134 yang artinya 'orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang Muhsinin (berbuat kebajikan)
"Kemajuan suatu bangsa tergantung sejauh mana warga negara dapat mengapresiasi serta mengakses beragam ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu sesseorang semakin tinggi derajat, semakin halus budi dan semakin besar jiwanya. Salah satu indikator orang berilmu dan memiliki kesantunan dan jiwa besar ialah mengakui kesalahan individu sekaligus memaafkan kesalahan orang lain."
Ust. Qasim Shaleh juga menyampaikan bahwa bulan syawal merupakan bagian dari bulan reparasi diri dan pembersihan jiwa. Dalam tingkah laku keseharian dan kondisi tertentu, ada sikap, perilaku dan kadang ucapan yang terselip menyinggung dan menggores perasaan teman, sahabat dan orang lain. Hal ini berjalan di luar kesadaran dan pengendalian diri kita. Sebagai salah seorang individu muslim, meminta maaf dan memaafkan merupakan cermin dari keutuhan suatu komunitas dan representasi dari kualitas seorang muhsinin (orang yang bijak).
"Ketauladanan seorang pemimpin dapat tercermin dari perilaku keseharian dan sinkronisasi antara ucapan dan perbuatan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW diutus ditengah ummatnya dengan latar biodata seorang ummie (buta aksara) namun peka akan keadaan dan kondisi lingkungan dan ummatnya. Kondisi inilah yang diharapkan oleh Islam untuk menjadi bagian dan perangai keseharian kita."
Dalam akhir ceramahnya, Ust. Qasim berpesan agar dalam kesempatan dapat meneladani kepribadian Rasulullah dengan berjiwa besar meminta maaf dan berlapang dada menerima permintaan maaf pada orang lain.
Kemudian acara ditutup dengan do'a dan ramah-tamah.
(ika)
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar









