BERANDA
PROFIL KITA
JEJAK INFO
AGENDA
BIDIKAN LENSA
LEMBAGA PNF
OPINI
KONTAK
 
Pustaka
Senin, 18 September 2006 08:40:34
Habis Minyak Terbitlah Jarak Pagar
Kategori: Jurnal (1549 kali dibaca)

Judul tulisan ini mengingatkan kembali ingatan kita akan kegalauan dalam masa kegelapan dialami oleh Kartini karena krisis mental beliau yang terkungkung sehingga hampir saja kehilangan perjuangannya dalam memajukan diri dan kaum perempuan Indonesia dari ketidakadilan berkarya.

Analogi di atas dikedepankan agar keadaan keberlangsungan bangsa atas persoalan kelangkaan sumberdaya energi yang merupakan kebutuhan rakyat dapat cepat teratasi. Masa kegelapan yang sebenarnya sudah di mulai lima tahun belakangan merupakan sinyal yang harus cepat segera di atasi jika tidak ingin energi sebagai kebutuhan dasar menjadi semakin langka seiring dengan menyusutnya sumber energi fosil di Indonesia.

Persoalan kelangkaan energi akhir-akhir, lebih disebabkan oleh keterbatasan sumberdaya energi dan praktek penyundupan, semakin memberikan beban kepada masyarakat “dhuafa” dengan harga BBM yang membumbung tinggi ditambah penyesuaian harga BBM oleh pemerintah untuk melepas subsidi yang membebani keuangan negara. Walaupun untuk kaum “dhuafa” pemerintah akan memberikan subsidi langsung kepada mereka melalui apa yang disebut pemberian dana kompensasi BBM, tetapi lagi-lagi karena buruknya perencanaan penyaluran membuat banyak dari mereka tidak menerima.

Alhasil, gambaran di atas seharusnya memberikan arah kontemplasi, seperti yang dilakukan oleh Kartini baik untuk dirinya sendiri dan kaum perempuan, bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera melakukan arah agar kabut gelap energi dan kemiskinan dapat segera dapat diatasi. Rangkaian seminar dan diskusi telah marak dilakukan sebagai urun rembug para pemangku kepantingan (stakeholders) untuk memberikan exit strategy agar keluar dari persoalan di atas. Kenapa sampai saat ini berbagai usulan yang baik dan memberikan optimisme hanya sampai di ruang seminar?

Pertanyaan di atas agak susah untuk dijawab. Pasalnya hampir tidakada para pejabat di negeri ini sebagai pengambil keputusan yang mau berdiam diri mengikuti jalannya seminar sampai selesai dan memberikan komitmennya untuk melakukan program aksi sesegera mungkin. Banyak para pemangku kepentingan yang serius untuk membantu kecewa kegiatannya dalam membantu menyediakan energi alternatif harus berhadapan dengan batu besar yang menghambat karena terbentur dengan peraturan. Sebagai contoh misalnya upaya penyediaan bahan bakar cair hayati yang dirintis dalam 3 tahun terakhir oleh para anggota forum biodisel Indonesia (FBI) terhambat karena persoalan birokrasi dan peraturan yang kurang mendukung. Peneliti dari ITB dan BPPT yang juga bergabung dalam forum pada akhirnya hanya menggunakan bahan bakar biodisel dalam lingkungan mereka saja.

Walaupun akhirnya kesabaran para pemangku kepentingan telah memberikan hasil yang sedikit menggembirakan dengan adanya masyarakat yang mau membeli dan menggunakan biodisel buatan mereka, ditambah sedang diprosesnya usulan mereka mengenai standar biodisel Indonesia yang hingga kini belum ditetapkan oleh pemerintah. Upaya seperti ini tidak boleh berhenti dan harus terus berlanjut seperti dilakukan teman-teman Kartini yang terus mengupayakan semangat akan harapan hari esok menjadi lebih baik.

Pilihan bahan bakar cair hayati, terutama jarak pagar (Jatropha Curcas), sebagai bahan bakar pengganti sudah menjadi pilihan utama disamping masih ada sekitar 40-an jenis tumbuhan lain yang dapat menghasilkan minyak, karena selain sebagai tanaman yang mudah tumbuh dan tidak dapat dikonsumsi (non edible), minyak dari jenis ini juga dapat difungsikan untuk sektor pengguna yang lebih luas seperti transportasi, industri dan rumah tangga.

Untuk sektor tranportasi dan industri, minyak jarak umumnya dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin disel dengan sebelumnya, minyak yang dihasilkan melalui proses pemerasan, harus diproses lagi melalui proses transesterifikasi menjadi bahan bakar biodisel. Sedangkan untuk pemakaian di rumah tangga, yang sekarang sangat dibutuhkan akibat kenaikan harga minyak tanah, minyak jarak dapat langsung dihasilkan hanya dengan proses pemerasan dan mengganti kompor minyak tanah dengan kompor tekan (pressurized stove) dan penerangan dengan petromax.

Pemerosesan yang tidak memerlukan teknologi tinggi dan perawatan yang sangat mudah (bahkan tidak perlu karena termasuk dalam kategori tanaman yang mudah tumbuh di lahan kritis) menjadikan jarak pagar menjadi alternatif pilihan utama untuk dikembangkan. Selain itu, jarak pagar dapat difungsikan sebagai upaya memulihkan kembali lahan kritis yang saat ini mencapai sekitar 22 juta hektar. Dengan lahan seluas itu dan tingkat produktivitas minyak jarak sebesar 35% dari biji kering yang dihasilkan, setidaknya kita dapat memperoleh tidak kurang dari 600 juta barel minyak jarak setiap tahunnya. Angka tersebut melebihi kapasitas produksi minyak bumi Indonesia yang rata-rata mencapai 500 juta barel. Menakjubkan bukan. ?

Jika pengusahaan penanaman jarak pagar dilakukan oleh petani, yang notabene adalah kelompok “dhuafa”, maka pendapatan petani seluruh Indonesia, atas penjualan biji kering jarak pagar sebesar 500 Rupiah per kg (harga saat ini yang disepakai pengusaha pemerosesan minyak jarak menjadi biodisel), akan mencapai 137 trilliun Rupiah. Jumlah yang sangat besar dan tentunya akan berpengaruh besar dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Lagi-lagi informasi di atas, akan tetap tidak ada artinya manakala kita tidak ingin melakukan perubahan untuk mengatasi keterbatasan pasokan sumberdaya minyak yang setiap tahunnya akan berkurang, dan akan habis dalam 2 dekade ke depan.

Sekali lagi dengan menganalogikan para pemerhati energi sebagai Kartini, maka usaha keras teman-teman Kartini sebagai pemangku kepentingan untuk mendorong impian menjadi kenyataan sangat menentukan, bukan mustahil dapat mewujudkan habis gelap terbitlah terang menjadi habis minyak terbitlah jarak pagar.

(MOH. TAUFIK MARGONO, SPd. MM)
 
Sumber: MOH. TAUFIK MARGONO, S.Pd, MM
Not Rated!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar


XML